Feature

The 5th PROFUNEDU: School Children Want to Come Back to School

Yogyakarta, 8 Agustus 2020

Online learning mampu melampaui batas ruang (kelas). Online berkepenjangan selama pandemi ini dapat menimbulkan kejenuhan bagi anak-anak. Oleh sebab itu, pada umumnya anak-anak di Amerika sudah ingin segera kembali ke sekolah. Alasannya secara umum mereka bisa berkreasi langsung, bisa langsung berkomunikasi dan berinteraksi, serta bisa mendapatkan pengalaman langsung, dapat langsung mengembangkan keterampilan khusus, bisa langsung hidup bersama dengan berbagai masyarakat. Alasan anak-anak di Amerika ini, juga harapan anak di seluruh dunia pada umumnya ini bisa dipahami. Sebab hakikat anak adalah sebagai makluk sosial. Ciri makluk sosial adalah interaksi dan komunikasi serta berkreasi langung. Demikian penegasan Prof. Popy Rufaidah, Atdikbud RI di USA sebagai salah satu key note dalam acara webinar putaran ketiga International Conference on ‘the 5th PROFUNEDU , Engineering Learning in the Global Communication and Computation Era’ yang diselenggarakan oleh Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Indonesia (ALPTK PTM) bekerja sama dengan dengan FKIP UMS dan FKIP UAD Yogyakarta serta FKIP Unmuh Bangka Belitung, FKIP Unmuh Kupang, dan FKIP Unmuh Pare-Pare.

Rumusan tersebut inline dengan pernyataan nara sumber lainnya yang menjadi invited speakers dalam forum ini. Antara lain, Prof. Popy Rufaidah (Atdikbud RI-USA), Prof. Arief Rochman, PhD. (Atdikbud RI UK), Prof. Joko Nurkamto (President of TEFLIN), Prof. Dr. Dwi Sulisworo (UAD), Prof. Anam Sutopo (UMS), Patahudin (UM Parepare), Ihwan (UM Kupang), dan Maulina Hendrik (FKIP Unmuh Muh Babel). Secara umum dapat disimpulkan bahwa rekayasa pembelajaran daring memiliki kelebihan dalam melapaui batas ruang dan waktu serta pengetahuan tetapi lemah di aspek keterampilan berkehidupan masyarakat (to live together). Dengan kata lain, pembelajaran online saat ini masih belum efektif.

Dalam konteks masa pandemi di Indonesia yang kemudian semua pembelajaran dilaksanakan secara daring, sebagaimana disampaikan oleh Kemendikbud RI bahkan akan diperpanjang sampai dengan Desember 2020 dipandang perlu untuk dievaluasi kembali. Oleh sebab itu, perlu dilaksanakan pembelajaran dalam skala-skala kecil, perlu penguatan pendidikan keluarga, home schooling, home visits, school visits, perlu pembelajaran secara bergantian dengan tetap adaptasi protokol kesehatan. Kesimpulannya diperlukan kurikulum baru, pendekatan baru, dan bentuk-bentuk pembelajaran baru supaya anak-anak mendapatkan asupan pendidikan wajar dan cukup.

Online learning mampu melampaui batas ruang (kelas). Online berkepenjangan selama pandemi ini dapat menimbulkan kejenuhan bagi anak-anak. Oleh sebab itu, pada umumnya anak-anak di Amerika sudah ingin segera kembali ke sekolah. Alasannya secara umum mereka bisa berkreasi langsung, bisa langsung berkomunikasi dan beriinteraksi, serta bisa mendapatkan pengalaman langsung, dapat langsung mengembangkan keterampilan khusus, bisa langsung hidup bersama dengan berbagai masyarakat. Alasan anak-anak di Amerika ini, juga harapan anak di seluruh dunia pada umumnya ini bisa dipahami. Sebab hakikat anak adalah sebagai makluk sosial. Ciri makluk sosial adalah interaksi dan komunikasi serta berkreasi langung. Demikian penegasan Prof. Popy Rufaidah, Atdikbud RI di USA sebagai salah satu keynote dalam acara webinar putaran ketiga International Conference on ‘the 5th PROFUNEDU , Engineering Learning in the Global Communication and Computation Era’ yang diselenggarakan oleh Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Indonesia (ALPTK TM) bekerja sama dengan dengan FKIP UMS dan FKIP UAD Yogyakarta serta FKIP Unmuh Bangka Belitung, FKIP Unmuh Kupang, dan FKIP Unmuh Pare-Pare.

Rumusan tersebut in line dengan pernyataan nara sumber lainnya yang menjadi invited speakers dalam forum ini. Antara lain, Prof. Popy Rufaidah (Atdikbud RI-USA), Prof. Arief Rochman, PhD. (Atdikbud RI UK), Prof. Joko Nurkamto (President of TEFLIN), Prof. Dr. Dwi Sulisworo (UAD), Prof. Anam Sutopo (UMS), Patahudin (UM Parepare), Ihwan (UM Kupang), dan Maulina Hendrik (FKIP Unmuh Muh Babel). Secara umum dapat disimpulkan bahwa rekayasa pembelajaran daring memiliki kelebihan dalam melapaui batas ruang dan waktu serta pengetahuan tetapi lemah di aspek keterampilam berkehidupn masyarakat (to live together). Dengan kata lain, pembelajaran online saat ini masih belum efektif.

Dalam konteks masa pandemi di Indonesia yang kemudian semua pembelajaran dilaksanakan secara daring, sebagaimana disampaikan oleh Kemendikbud RI bahkan akan diperpanjang sampai dengan Desember 2020 dipandang perlu untuk dievaluasi kembali. Oleh sebab itu, perlu dilaksanakan pembelajaran dalam skala-skala kecil, perlu penguatan pendidikan keluarga, home schooling, home visits, school visits, perlu pembelajaran secara bergantian dengan tetap adaptasi protokol kesehatan. Kesimpulannya diperlukan kurikulum baru, pendekatan baru, dan bentuk-bentuk pembelajaran baru supaya anak-anak mendapatkan asupan pendidikan wajar dan cukup.

The 21st Century of Fun and Progressive Learning Engineering: International Conference Profunedu

Surakarta, 20 Juni 2020.

Asosiasi LPTK PTM telah menggelar webinar dengan skala internasional dengan tema “The 21 st Century of Fun and Progressive Learning Engineering” pada Sabtu, 20 Juni 2020. Acara tersebut merupakan putaran pertama dari tiga putaran yang digelar sebagai bentuk implementasi pola asuh antar LPTK PTM. FKIP UMS sebagai host dalam penyelenggaraan Webinar internasional ini. Gagasan Pola Asuh oleh ketua Asosiasi LPTK PTM sekaligus Dekan FKIP UMS dan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Harun Joko Prayitno, ditujukan untuk membantu menaikkan reputasi akreditasi LPTK PTM. Ada 8 invited speakers baik dari dalam maupun luar negeri pada putaran 1, antara lain Prof Laurence Tamatea dari Charles Darwin Univ, Australia, Prof. Mohm Hairy dari UPSI Malaysia, Koesoemo Ratih, PhD (UMS), Dr. Rustamaji (Unimuda Sorong).

Salah satu topik paparan dalam webinar ini bertajuk “Challeges of Preparing for Autonomous Teachers: Professional Teaching Practice in the New Normal Era” yang disampaikan oleh Koesoemo Ratih, Ph.D hasil karya kolaborasi dengan Harun Joko P dan Laurence Tamatea. Gagasan tsb menekankan pada tantangan calon guru, guru dan LPTK di era digital paska pandemik. Peran teknologi, media dan arus globalisasi membentuk tantangan dan tugas baru bagi guru dan calon guru. Dan ini semua merupakan aspek yang signifikan dalam mereformasi tradisi pembelajaran. Dalam konteks ini tata kelola pendidikan dan desain pembelajaran perlu melakukan adaptasi dan rekayasa pembelajaran secara cepat dan tepat supaya pembelajaran berlangsung fun and progressive.

Kebijakan global sejak tahun 2000 yg direkomendasikan UNESCO untuk mengintegrasikan ICT dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan system pendidikan yang berkualitas telah direspon oleh kebijakan nasional dan lokal institusi masih banyak menuai tantangan pada tataran praktik. Oleh karena itu LPTK Muh harus bisa selalu beradaptasi, progessive , berkreasi, dan berinovasi dengan tetap memperkuat militansi nilai2 Kemuhammadiyahan dalam menghasilkan calon guru penggerak yg mandiri dan berpenciri Islami (KR, HJP, L, 2020).

Lamp:

WEBINAR DALAM RANGKA HARDIKNAS: KERJA SAMA UMS, ALPTK PTM, & MAJELIS DIKTI LITBANG PP MUHAMMADIYAH DIIKUTI 862 PESERTA DARI BERBAGAI NEGARA

Surakarta, 2 Mei 2020

Tema webinars dalam rangka memperingati Hardiknas 2 Mei 2020  ini adalah *Rekayasa Pembelajaran Era  Merdeka Belajar di Masa Pandemi Covid-19*. Terdapat dua kata kunci penting dalam webinars ini, yaitu rekayasa pembelajaran dan merdeka belajar. Pembelajaran saat di era komputasi global ini berkembang dengan pesatnya dan ekstrimnya telah mengalami bukan saja perubahan yang luar biasa. Tetapi sudah terjadi lompatan teknik dan strategi pembelajaran yang demikian cepatnya. Sudah terjadi semacam disrupsi pembelajaran. Yaitu, perubahan teknik dan strategi pembelajaran yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kristalisasi pesan penting KH Dewantara “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” terbukti. Pembelajaran daring yang dilaksanakan di hampir semua negara di dunia ini, lebih dari 206 negara, secara bersamaan dan tiba-tiba karena pandemi global “siap atau belum siap, suka atau belum suka, lancar atau belum lancar, bahkan ada atau belum ada” harus menjadi seolah “siap, suka, lancar, dan ada” dalam pembelajaran daring ini. Dalam pembelajaran daring ini semua orang tua, kakak, adik, keponakan, keluarga, tetangga, kolega, tamu, dan bahkan orang yang belum dikenalnya tiba-tiba menjadi guru semua. Dan, tiba-tiba pula semua rumah sekarang ini secara disrupsi (: Jawa ujug-ujug) sudah menjadi unit-unit dan suasana sekolah. Perubahan besar yang terjadi saat ini tersebut, jauh hari sudah dipikirkan oleh Bapak Pendiri Pendidikan Indonesia, KH Dewantara. Itulah sebabnya, KH Dewantara layak mendapat anugerah seorang futuris pendidikan.

Apapun dapat dijadikan sumber belajar. Setting bagaimanapun dapat dijadikan tempat belajar (H.J Prayitno, 2020). Dalam konteks ini sumber belajar bukan hanya dari orang ke orang. Alam semesta, benda, alat, medsos, dan apa pun lainnya yang tidak bisa disebutkan saat ini bisa dijadikan sumber belajar. Oleh karena itulah, pemilihan dan penentuan sesuatu apapun sebagai sumber belajar tersebut pentingnya didasarkan pada value ‘nilai’. Karena hakikatnya sumber belajar yang dari manapun itu harus didasarkan pada nilai kemanfaatan, nilai kemanusiaan, dan nilai untuk memartabatkan kehidupan. Karena ilmu yang sesungguhnya adalah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang mememanusiakan manusia (: Jawa nguwongke), dan ilmu yang bermartabat serta beradab.

Setting pembelajaran saat ini tidak lagi bisa di batasi hanya di sekolah atau di rumah. Dalam setting pembelajaran tersebut juga mengalami perubahan, dinamika, dan lompatan yang sangat cepatnya. Setting pembelajaran berubah dari tempat ke waktu. Berubah dari waktu ke suasana. Siswa dan siapapun bisa belajar bukan saja di sekolah, atau bukan saja di rumah, tetapi bisa berlangsung di manapun, di mobil, di pesawat, di kebun, di pos ronda, bahkan ekstrimnya bisa di kamar mandi (WC) sekalipun. Perubahan setting pembelajaran yang sangat ekstrim ini karena sangat bergantung pada suasana ‘mood’ pembelajar. Dalam konteks ini diperlukan pentingnya suatu nilai belajar. Hakikat belajar adalah ilmu yang dapat memartabatkan kehidupan.

Di dalam setting belajar itu sendiri sangat dimungkinkan adanya perubahan yang sangat ekstrim lagi. Pada hari yang sama siswa atau pembelajar dapat belajar di berbagai tempat sekaligus. Dinihari belajar di rumah, pagi hari belajar di bandara, tengah hari belajar di kota transit pertama, siang harinya lagi belajar di kota transit kedua dan seterusnya, menjelang sorenya belajar di bandara tujuan. Demikian seterusnya selama masih ada akses (: sinyal). Sesungguhnya telah terjadi pergerakan setting pembelajan yang berubah dengan drastisnya. Semua ini dikembalikan kepada tatanan dan hahikat nilai belajar. Setting belajar yang sesungguhnya adalah setting waktu-tempat-suasana (triple setting Pendidikan) yang bisa tetap berpijak pada nilai kemanfaatan.

Belajar untuk ilmu, ilmu apapun. Ilmu yang dapat memartabatkan kehidupan. Ilmu yang mampu memanusiakan manusia. Ilmu yang bisa mendatangkan kemanfaatan. Itulah pesan penting dari webinars dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020 yang diikuti oleh 862 peserta dari berbagai lapisan, unsur, dan benua. Sebagai nara sumber untuk memartabatkan ilmua tersebut, yaitu: Prof. Suyanto, Ph.D. (pemerhati pendidikan sekaligus Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), Prof. Warsito (Atdikbud RI Prancis), Prof. Dr. Sofyan Anif (Rektor UMS), Prof. Dr. Harun Joko Prayitno (Ketua ALPTK PTM), Prof. Gamal Abdul Nasir Zakaria (UBD, Education Faculty Universiti Brunei Darussalam), Prof. Fauziah Abdul Rahim (Education Faculty, UUM Malaysia). Semoga bermanfaat.

Lampiran:

  1. Materi Prof. Warsito (Atdikbud Kedubes RI di Prancis)
  2. Materi Prof. Fauziah Abdul Rahim (UUM, Malaysia)
  3. Materi Prof. Suyanto (Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)
  4. Materi Prof. Harun Joko P. (Ketua ALPTK PTM)

KOMUNIKASI: INTI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DI ERA KOMPUTASI GLOBAL

Dalam rangka mewujudkan Permendikbud No.6 tahun 2018 tentang penugasan guru, pada pasal 21 e menyebutkan bahwa kepala sekolah yang sedang menjabat dimaksud dalan huruf a yang belum memiliki surat tanda tamat pendidikan dan pelatihan kepala sekolah sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat 9 wajib mengikuti dan lulus pendidikan dan pelatihan penguatan kepala sekolah.

LPPKS bekerjasama dengan FKIP UMSurabaya menyelenggarakan diklat penguatan kepala sekolah yang dilaksanakan berdasarkan SK Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud RI Tahap 4 No 5497/B/B1.3/HK/2019 tanggal 29 Juli 2019.

Endah Hendarwati, S.E., M.Pd., Ketua Panitia Pelatihan dan Penguatan Kepala Sekolah, menjelaskan  bahwa LPD Univeritas Muhammadiyah sebagai salah satu Lembaga Penyelenggara Diklat Penguatan Kepala Sekolah untuk TK, SD dan SMP tahun 2019.  Pada tahap 3 Diklat diikuti oleh peserta sebanyak 165 Kepala Sekolah TK, SD dan SMP  Kabupaten Sampang. Kegiatan diklat tahap 3 diselenggarakan dari tanggal 14 s/d 21 Oktober 2019  bertempat di Hotel Gunawangsa MERR Surabaya.

Kegiatan acara penutupan Diklat penguatan kepala sekolah tahap 3 dihadiri oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Dr.Dr. Sukadiono, M.M., Wakil rektor II UMsurabaya Dr. Ridlwan, M.Pd, ketua LPD  Endah Hendarwati, S.E., M.Pd dan Plt Kepala Dinas Sampang Drs. Nor Alam, M.Si.

Suasana penutupan Diklat KS tahap III di LPD UM Surabaya oleh Rektor Dr. dr. Sukadiono, M.M.

Dalam acara penutupan rektor menyampaikan sebagai uswah atau pemimpin harus memiliki 3 kemampuan yaitu moral, intelektual, dan manajerial.  Di bidang moral, para kepala sekolah harus bisa memberi contoh yang baik. Misalnya, disiplin waktu, tanggung jawab, dan  jujur. “Bagaimana mendisiplinkan orang lain kalau kita sendiri tidak disiplin,” pesan rektor kepada peserta diklat.

Di bidang intelektual, kepala sekolah harus terus menambah wawasan, ilmu, dan nilai lebih.

Kemudian, di bidang manajerial, kepala sekolah harus dapat memberdayakan guru. Memberikan delegasi kepada mereka. “Jangan sampai keliru delegasi,” ujarnya.

Aspek lain yang perlu dipertimbangkan oleh kepala sekolah adalah komunikasi. “Inti organisasi itu manajemen. Inti manajemen itu kepemimpinan. Dan, inti kepemimpinan itu komunikasi. Kalau komunikasi tidak jalan, manajerial pasti terganggu,” ujarnya.

Rektor UM Surabaya Dr. dr. Sukadiono, M.M. menyerahkan sertifikat dan penghargaan kepada peserta pada penutupan Diklat KS di Hotel Gunawangsa MERR Surabaya.

Sedangkan Plt Kadinas Sampang Nor Alam menyampaikan rasa terima kasih atas kegiatan diklat PKS yang diselenggarakan UMSurabaya. Ke depan akan dilanjutkan dengan kerja sama dalam kegiatan lain. Nor Alam menyatakan, kepala sekolah sekarang ini tidak lagi bertugas mengajar. Saat ini tugas kepala sekolah adalah manajerial, supervisor, dan wirausaha. Oleh karena itu, kompetensi kepala sekolah harus setingkat lebih tinggi daripada para guru. “Kalau setara, nanti diremehkan,” ujarnya.

Rektor Dr. dr. Sukadiono, M.M, Wakil Rektor II Dr. M. Ridlwan, M.Pd., dan Ketua LPD UM Surabaya Endah Hendarwati, S.E., M.Pd. bersama para peserta terinspiratif

Dalam acara penutupan diakhiri dengan penyerahan sertifikat dan   penghargaan kepada beberapa kepala sekolah yang menginspirasi. Acara ini digagas berangkat dari pengalaman dari instruktur di kelas, dengan adanya salah satu kepala sekolah di kelas yang memberikan insipirasi akan membawa dampak positif pada motivasi peserta lain.

LPD DAN PENDIDIKAN KITA

Jakarta, 28 Oktober 2019

Lembaga Penyelenggara Diklat Kepala Sekolah FKIP UHAMKA pagi tadi secara resmi menyerahkan Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Latihan. Ini juga menandai ditutupnya secara resmi seluruh rangkaian Diklat Penguatan Kepala Sekolah sejak Tahap I sampai dengan Tahap V.

Diklat Penguatan Kepala Sekolah dimaksudkan sebagai upaya negara melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat GTK, LPPKS dan PPPPTK serta Asosiasi LPTK Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan layanan pendidikan di tingkat persekolahan di Indonesia.

FKIP sebagai LPD yang diberi amanat dan mandat untuk menjalankan tugas negara mendapatkan zonasi untuk kepala sekolah di daerah kotamadya Jakarta Timur dan Jakarta Barat, tentu saja atas kepercayaan pemerintah, berupaya menjalankannya dengan sebaik baiknya. Kami percaya bahwa generasi yang baik bagi Indonesia masa depan hanya bisa terjamin jika pendidikannya dilaksanakan dengan baik, pendidikan yang baik hanya bisa dilaksanakan jika guru gurunya baik dan berkualitas, guru guru yang baik dan berkualitas itu hanya bisa diadakan antara lain apabila terdapat kepemimpinan kepala sekolah yang baik, yang dapat menjalankan tugas tugas kepemimpinan, supervisi, manajerial serta pembinanaa dan pengembangan sekolah.

Tugas ini diyakini, apabila dijalankan dengan kesungguhan dan tanggungjawab serta pemahaman dan pengetahuan, akan memberi penguatan bagi pelaksanaan pendidikan di tingkat persekolahan. Kita menyadari ini adalah tugas berat sekaligus mulia, menyiapkan generasi muda Indonesia yang lebih baik.

Pendidikan kita harus dikelola dengan kesungguhan dan keseriusan, manakala kita sebagai bangsa ingin memiliki masa depan yang baik. Pendidikan kita memerlukan bukan hanya visi dan misi yang kuat, tetapi juga perlu memiliki kerja kerja yang semakin dalam dan meluas bagi dampak kemajuan generasi bangsa.

Ini menjadi serius dan mendesak, di tengah problema keindonesiaan kita yang sarat dengan berbagai situasi kritikal bagi bangsa ini, maka pendidikan akan memberi arah bagi jalan ke luar dari situasi kritikal yabg dihadapi Indonesia. Memang tidak instan, kerja kerja serius pendidikan pada hari hari ini, akan dirasakan manfaatnya bagi segenap bangsa dan negara serta rakyat Indonesia pada 15 atau 20 tahun yang akan datang.

Kita tengah menikmati apa yanh disebut dengan bonus demokrasi pada tahun tahun belakangan sampai 2040 yang akan datang. Puncaknya adalah bagaimana pada 100 tahun kemerdekaan Indonesia, kita menikmati generasi produktif dari manusia Indonesia yang melimpah, yang dibekali pendidikan yang baik dalam jumlah yang masif atau minimal memadai. Inilah generasi yang akan menjadi lokomotif yang menggerakkan pembangunan nasional kita untuk menjadi negara besar di antara pergaulan antar bangsa di dunia yang semakin hari semakin ketat dan kompleks.

Sejarah mencatat, tidak ada satupun negara dan bangsa yang mendapatkan kemajuan dalam perjalanannya, tanpa melakukan investasi dan kerja serius dalam pendidikannya. Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan Cina, serta Korea Selatan, adalah contoh terbaik dari bangsa yang sukses dan maju karena kerja kerja pendidikan dan bonus demografi di masa lalu. Maka tidak berlebihan, Indonesia perlu menegaskan kembali visi dan kesadaran semacam itu melalui komitmen yang serius terhadap pendidikan anak bangsa.

Inilah masa depan Indonesia yang original, tanpa perlu harus melalui proses yang mengharu biru sebagaimana politik dan ekonomi kita bergulir. Tentu saja pendidikan membutuhkan variabel politik dan ekonomi. Karena dua pendekatan itu tidak terpisahkan dalam regulasi pendidikan kita. Tetapi saya percaya, pendidikan yang baik bisa berjalan dengan sedikit keputusan politik atau jika ada keputusan politik yang visoner dalam mendukung kerja kerja pendidikan. Maka sesungguhnya kerja kerja pendidikan adalah kerja sunyi yang melangkah dengan kepastian dan komitmen yang tinggi dari suatu bangsa dan pemerintah serta masyarakatnya.

Atas dasar kerangka berpikir semacam itu maka kerja kerja pendidikan kita yang serius dan sungguh melalui diklat Penguatan Kepala sekolah diletakkan dalam tanggungjawab yang besar dan ditujukan bagi kepetingan generasi dan masa depan bangsa.

INTEGITAS, KEMAMPUAN MANAJERIAL, KEPEMIMPINAN PUBLIK, & LITERASI IT: 4 SYARAT KEPALA SEKOLAH DI ERA DISRUPSI PENDIDIKAN

Surakarta, 25 September 2019

Kepala Sekolah (KS) harus dinamis sejalan dengan dinamia dan perubahan yang terjadi di lingkungan masyarakat pendidikan. Perubahan ini berdampak pada tata kelola dan manajemen sekolah supaya bisa seirama dengan perubahan dan perkembangan masyarakat pendidikan.

Perubahan-perubahan itu menjadi penting terutama kemampuannya dalam beradaptasi dengan perubahan teknologi informasi di era industri 4.0. Sebuah era yang perubahan serta dinamika pendidikannya serba sangat cepat dan bahkan mengalami ketakterdugaan (disrupsi pendidikan).

Penegasan hal tersebut disampaikan oleh Dekan FKIP UMS selaku PJK LPD FKIP UMS, Prof. Harun Joko Prayitno, kepada peserta Diklat Penguatan KS pada saat penutupan peserta Diklat Penguatan KS tahap 2 di Pos In Hotel dan di Grand HAP Hotel tanggal 25 September 2019.

Kepala Sekolah di era komputasi dan komunikasi global saat ini setidaknya diperlukan 5 pilar kepiawaian. Yaitu pilar kemampuan manajerial, pilar integritas, pilar kepercayaan kepemimpinan publik, pilar literasi teknologi informasi, dan pilar futuris yang humanis. Demikian penegasan Prof. Harun Joko Prayitno dalam kesempatan penutupan Diklat tersebut.

Perserta yang mengikuti Diklat tahap 2 ini berasal dari Dinas Kab Sukoharjo 148 dan dari Dinas Kab Boyolali 172. Diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini KS benar-benar menjadi KS yang berkatekter hebat, kuat, bermartabat, dan bermanfaat. Semoga.

SEBANYAK 200 KEPALA SEKOLAH TK, SD, SMP KAB. PURBALINGGA IKUTI DIKLAT PENGUATAN KEPALA SEKOLAH FKIP UMP

Purwokerto, 12 September 2019

Lembaga Penyelenggara Diklat (LPD) Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) bekerjasama dengan Lembaga dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) menggelar diklat penguatan kepala sekolah jenjang TK, SD, SMP angkatan 1 untuk Kabupaten Purbalingga, baru-baru ini, di Baturaden.

Dekan FKIP Pudiyono selaku ketua panitia mengatakan, angkatan pertama ini diikuti sebanyak 200 kepala sekolah. LDP FKIP mendapat kuota menyelenggarakan Diklat sebanyak 1787 peserta dari empat kabupaten. Yakni Purbalingga, Banjarnegara, Pemalang dan Pekalongan.

“Peserta dari Purbalingga terdiri atas 411 orang dilaksanakan dengan dua tahap, sementara untuk keseluruhan kuota akan dilaksanakan dengan 9 angkatan,” katanya.

Menurutnya, sesuai ketentuan perundangan terkait bahwa kepala sekolah harus bersertifikat profesi, karena dengan sertifikat profesi dalam keseharian itu bisa melakasankan tugas dengan baik. Diantaranya menandatangani ijazah siswa, menandatangani dana operasional maka dengan itu kepala sekolah akan merasa nyaman mempunyai legalitas yang kuat.

“Sebenarnya kepala sekolah mempunyai 4 tugas yaitu management sekolah, mensupervisi sekolah terkait guru dan murid termasuk membangun hubungan dengan wali murid yang baik, mengembangkan kewirausahan sekolah dan tugas pokok ialah mengembangkan sekolah sesuai dengan 8 standar Pendidikan nasional dan saya berharap peserta bisa focus dan bisa lulus 100%,” jelasdia.

Wakil Rektor III Akhmad Darmawan, SE., M.Si mengatakan, diklat kepala sekolah ini adalah amanat dari permen no 6 2018. Diharapkan mereka yang sudah kuat akan menjadi kuat lagi, karena mengelola sekolah membutuhkan energi yang lebih.

Menurutnya, kepala sekolah itu guru yang diberi tugas lebih untuk mengelola seluruh sumber daya yang dimiliki sekolah baik terkait dengan input yaitu siswa, kurikulum sampai dengan keamanan dan kenyamanan siswa dalam bersekolah dan menjadikan siswa yang biasa biasa saja menjadi lebih baik, jadi kepala sekolah merupakan central baik tidaknya sebuah sekolah.

“Bagi univesitas khususnya FKIPUMP,ini menjadi amanah yang baik dan harus bertanggung jawab agar penyelenggaraanya optimal dan peserta dapat meningkatkan kompetensinya sehingga bisa lulus semua,”jelasnya.

Link to: https://www.ump.ac.id/Fakultaria-1719-FKIP.UMP.Beri.Penguatan.200.Kepala.Sekolah.TK-SMP.Purbalingga.html

16 LPTK PTM: SELENGGARAKAN LPD DIKLAT PENGUATAN KEPALA SEKEOLAH NASIONAL SERENTAK

Yogyakarta, 3 September 2019

LPTK PTM melalui ALPTK PTM Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan PerguruannTinggi Muhammadiyah menyelenggarakan LPD Lembaga bagi kepala sekolah nasional secara serempak.

Penyelenggaraan Diklat di LPD LPTK PTM ini dilalsanakan berdasarkan SK Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud RI Tahap 4 No 5497/B.B1.3/HK/2019 tanggal 29 Juli 2019.
Sebanyak 16 LPTK PTM yang diberikan mandat untuk menyelenggarakan Diklat tersebut. Yaitu:

  1. UMS Surakarta
  2. UMM Malang
  3. UAD Yogyakarta
  4. UMP Purwokerto
  5. Uhamka Jakarta
  6. UMJ Jakarta
  7. Unmuh Makassar
  8. UMSU Medan.
  9. Unimuda Sorong
  10. Unmuh Surabaya
  11. Unmuh Mataram
  12. Unmuh Gresik
  13. Unmuh Jember
  14. UMY Yogyakarta
  15. Unmuh Pare-Pare
  16. Unmuh Metro Lampung

Kegiatan Diklat Penguatan Kepala Sekolah LPTK PTM pertama tama dimulai dengan LPTK UMS yang dimulai tahap 1 atau angkatan I dilaksanakan tanggal 1-8 September 2019 bertempat di Hotel HAP Slamet Riyadi dan Hotel Pose In.

Sementara itu 10 LPD LPTK PTM lainnya akan melaksanakan kegiatan pada bulan September seperti LPD: UMJ, UMP, Uhamka, Unismuh, UAD, UMG, UM Surabaya, UM Mataram, UMSU, UM Y, UMM, dan Unmuh Jember. Selanjutnya untuk 3 LPD LPTK PTM akan memulai kegiatan pada bulan Oktober seperti LPD: Unimuda Sorong, Unmuh Metro Lampung, dan Unmuh Pare-Pare.

Kepala LPPKS Kemendikbud RI Prof. Nunuk Suryani pada saat pembukaan LPD UMS menyampaikan pentingnya bahwa semua kepala sekolah harus tersertifikasi sesuai dengan regulasi peraturan perundangan yang berlaku. Sementara itu, Prof. Harun Joko Prayitno sebagai penangung jawab kegiatan LPD ini menggarisbawahi bahwa kepala sekolah diwajibkan memikiki kemampuan dan keterampilan manajerial pada era disrupsi pendidikan seperti sekarang ini. Oleh karenanya diperlukan diklat penguatan berupa manajerial recharging seperti sekarang ini. Sebab kepala sekolah merupakan sosok dan lokomotif sentral untuk bisa memajukan dan membranding sekolah yang dipimpinnya. Semoga.

Undangan Rakornas X ALPTK-PTM & The 4th Profunedu International Conference 2019

Asosiasi LPTK PTM akan menyelenggarakan Rakernas ke-10 ALPTK-PTM dan The 4th Progressive and Fun Education International Conference di Makassar pada 6-8 Agustus 2019. Adapun surat undangan, TOR, dan Leaflet konferensi dapat diunduh melalui link di bawah ini:

Surat Undangan  |  Panduan Rakernas ALPTK-PTM ke 10 | Term of Reference Profunedu 4th Daftar Peserta Rakernas

Leaflet Profunedu 4th  |  Website  | Submit Article

RAKORTEK LPD LPTK PTM UNTUK MENINGKATKAN MUTU PENYELENGGARAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN LPD

Yogyakarta, 18 Mei 2019.

Sebanyak 13 LPTK PTM yang mendapat mandat sebagai Lembaga Penyelenggara Diklat (LPD) Penguatan Kepala Sekolah dan Calon Kepala Sekolah sesuai dengan SK Dirjen 0801/B.1.3/HK/2019 melakukan rapat koordinasi teknis dalam persiapan pelaksanaan sertifikasi bagi Kepala Sekolah dan Calon Kepala Sekolah di Grand Quality Hotel pada Sabtu, (18/05/2019).

Penunjukan LPTK PTM sebagai LPD ini sangat beralasan karena sebelumnya LPTK PTM telah mendapatkan kepercayaan dari World Bank, Program Sida dari Swedia, SM3T, pengalaman dalam mengelola PPG, dan berdasarkan profil Asosiasi LPTM PTM. Kepercayaan tersebut menjadi dasar ALPTK PTM dalam mengusulkan LPTK PTM sebagai penyelenggara LPD. Sebagai komitmen LPTK PTM dalam menjalani sertifikasi sebagai LPD, LPTM PTM sudah melakukan perjanjian kerja sama atau MoU dengan LPPKS yang dilakukan pada tanggal 21 Desember 2018.

Untuk menghadapi penyelenggaraan LPD ini, instruktur yang dimiliki oleh LPTK PTM sebanyak 66 orang. Dari 66 instruktur tersebut merupakan instruktur yang sudah mengikuti ToT Penyegaran dan Bimtek yang dilakukan oleh Diktendik Kemendikbud. Dan dalam waktu dekat, LPTK PTM juga akan mendapatkan tambahan instruktur baru yang akan mengikuti pelatihan di berbagai wilayah sesuai dengan wilayah masing-masing LPTK.

Kegiatan rakortek antar LPTK PTM merupakan tindak lanjut dari kegiatan rakortek yang sudah dilakukan di LPPKS Kemendikbud pada 9-11 Mei 2019. Pada rakortek ini dihadiri narasumber yang didatangkan langsung dari LPPKS untuk memberikan pendampingan yang mencakup tata kelola kegiatan, teknis pelaporan kegiatan, teknis pertanggung jawaban kegiatan, dan teknis penugasan instruktur.

Dalam kesempatan ini, Prof. Lincolin Arsyad, Ph.D (Ketua Majelis Diktilitbang)  dan Prof. Harun Joko Prayitno (Ketua ALPTM PTM) menggarisbawahi tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan LPD, untuk meningkatkan mutu pelaporan, dan untuk meningkatkan mutu pertanggungjawaban kegiatan.

Pada kesempatan yang sama, Medira Ferayani (Mewakili LPPKS Kemdikbud) mengapresiasi kegiatan ini karena LPD LPTK PTM sudah sangat antisipatif dalam menyiapkan pelaksanaan LPD. Selanjutnya, LPTK PTM akan melakukan rakortek kembali dengan wali wilayah masing-masing. Dalam rakortek nanti akan ada penjelasan tentang teknis pelaksanaan, prosedur pencairan dana, prosedur perjanjian kerja sama dengan dinas pendidikan, dll.

Semoga dengan adanya rakortek antar LPTK PTM ini dapat menigkatkan mutu dalam menyelenggarakan LPD guna meningkatkan kompetensi kepala sekolah di Indonesia.

Asosiasi LPTK PTM © 2016 Back to Top