Feature

ProfunEdu-11th 2025: Kolaborasi Monash University dan 11 LPTK PTMA

Melbourne, 25 November 2025

Kegiatan The 11th Progressive and Fun Education (ProfunEdu 11th) International Conferene diselenggarakan pada Selasa, 25 November 2025 bertempat di Clayton Campus, Monash University, yang mempertemukan para pakar pendidikan dari Australia, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Momentum ini semakin bermakna karena bertepatan dengan Hari Guru Nasional, sehingga berbagai sesi diskusi banyak menyoroti dinamika dan masa depan sistem pendidikan Indonesia dan Australia, khususnya dalam konteks pengembangan konsep pendidikan Deep Learning di era kecerdasan buatan.

Kegiatan ini sebagai salah satu bagian dari implementasi kerja sama antara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan Monash University pada beberapa 17 Oktober 2025 yang bertempat di Kantor Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Yogyakarta.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari tiga negara, yaitu Prof. Yuli Rahmawati (Atdikbud KBRI Canberra, Australia), Assoc. Prof. Joanne Blannin (Monash University, Australia), Norazmie Yusof, Ph.D (University of Brunei Darussalam), Muhammad Sayuti, Ph.D (Universitas Ahmad Dahlan), serta Uslan, Ph.D (Universitas Muhammadiyah Kupang). Setiap pemateri menyampaikan pandangan dan riset terbaru terkait pembelajaran bermakna, teknologi digital, dan pengembangan profesional guru lintas negara.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sekaligus Ketua Asosiasi LPTK PTMA serta Koordinator pelaksanaan ProfunEdu 11th, menegaskan bahwa Indonesia perlu menatap masa depan pendidikan yang lebih menyenangkan dan humanis. Ia menyoroti kecenderungan pendidikan nasional yang terlalu berorientasi pada target dan capaian angka, sehingga menekan peserta didik dan mengurangi minat mereka terhadap proses belajar. Prof. Harun menekankan bahwa sistem pendidikan harus memberi ruang bagi siswa untuk menikmati pembelajaran, mengembangkan kreativitas, serta menemukan makna dalam setiap aktivitas belajar.

Dalam bagian lain sambutannya, Prof. Harun menyampaikan harapannya agar sistem pendidikan Australia, yang dikenal progresif dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan berpusat pada siswa, dapat menjadi inspirasi bagi transformasi pendidikan di Indonesia. Ia menegaskan bahwa pendidikan harus dibangun dalam suasana yang inklusif, mindful, meaningful, dan joyful, terutama di tengah perkembangan teknologi artificial intelligence yang semakin pesat. Menurutnya, teknologi adalah alat yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat sisi kemanusiaan proses belajar, bukan menggantikannya.

Sejalan dengan tema besar kegiatan tahun ini yaitu “Deep Learning for Progressive and Fun Education: Building Inclusive, Mindful, Meaningful, and Joyful Learning in the AI Era”, para narasumber memaparkan gagasan penting mengenai inovasi pendidikan. Prof. Yuli Rahmawati, pencetus konsep pendidikan Deep Learning di Indonesia, menyampaikan materi mengenai Deep Learning for Education in the Digital Era, menekankan pentingnya pembelajaran yang menumbuhkan refleksi, kolaborasi, dan kemandirian peserta didik. Assoc. Prof. Joanne Blannin menekankan peluang sinergi Indonesia–Australia dalam mengembangkan model deep learning yang adaptif terhadap kebutuhan regional dan perubahan digital.

Sementara itu, Muhammad Sayuti, Ph.D memaparkan hasil studi perbandingan mengenai program pengembangan profesional guru di Indonesia dan Australia, yang menunjukkan perlunya integrasi antara peningkatan kompetensi pedagogis dan pemanfaatan teknologi digital. Dari Brunei Darussalam, Norazmie Yusof, Ph.D berbagi temuan penelitian tentang persepsi mahasiswa terhadap penggunaan AI dalam pembelajaran sastra Melayu, memberikan gambaran mengenai kesiapan mahasiswa dalam konteks pendidikan digital di Asia Tenggara. Uslan, Ph.D menutup jajaran pemateri dengan membahas pentingnya penguatan karakter dan pembelajaran bermakna sebagai inti dari pendidikan yang humanis dan progresif.

Selain menghadirkan para pembicara internasional, ProfunEdu 11th juga diikuti sebanyak 62 presenter dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Australia. Hal ini menunjukkan besarnya antusiasme akademisi dalam mengembangkan inovasi pendidikan, sekaligus mempertegas posisi ProfunEdu sebagai platform penting untuk pertukaran gagasan dan praktik terbaik di tingkat internasional.

Melalui penyelenggaraan ProfunEdu 11th di Monash University, Asosiasi LPTK PTMA bersama para mitra internasional meneguhkan komitmen untuk memperkuat kualitas pendidikan melalui kolaborasi lintas negara. Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam memperluas perspektif akademik, memperkaya dialog kebijakan, dan mendorong implementasi pendidikan yang progresif serta berorientasi pada kebahagiaan dan kebermaknaan proses belajar di Indonesia.

ALPTK PTMA dan Monash University sepakati Pelaksanaan Join Conference ProfunEdu ke-11 di Clayton Campus pada 25 November 2025 

Yogyakarta, 17 Oktober 2025 — Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (ALPTK PTMA) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jejaring internasional dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Pada kegiatan ProfunEdu ke-11 Tahun 2025, ALPTK PTMA secara resmi menindaklanjuti kerja sama antara Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah dengan Monash University, Australia. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memperluas cakupan akademik dan riset dosen serta mahasiswa di lingkungan PTMA ke tingkat global.

Sebagai bagian dari implementasi kerja sama tersebut, ProfunEdu-11 Tahun 2025 dijadwalkan akan diselenggarakan pada 25 November 2025 di Monash University, Australia. Lokasi kegiatan direncanakan bertempat di Clayton Campus, yang merupakan salah satu kampus utama Monash University dan pusat kegiatan akademik serta riset unggulan.Kesepakatan ini merupakan hasil koordinasi & implementasi kerja sama dengan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dengan tim Monash University yang diselenggarakan di kantor Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah di Jalan Brawijaya, ring road selatan Yogyakarta pada Jumat, 17 Oktober 2025. Penyelenggaraan kegiatan di luar negeri ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam perjalanan internasionalisasi ALPTK PTMA, sekaligus memberikan pengalaman akademik yang berharga bagi seluruh peserta.

Kerja sama ini mencakup berbagai bentuk implementasi program non-degree yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia. Beberapa bentuk kerja sama tersebut meliputi joint international conference, joint publication, dan joint research di bidang pendidikan adaptif, progresif, dan moderatif. Program riset bersama ini akan mengangkat berbagai isu strategis dalam pengembangan pendidikan berbasis Deep Learning, Internet of Things (IoT), serta teknologi digital yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21.

Selain fokus pada program non-degree, kerja sama ini juga membuka peluang pengembangan program degree, khususnya Ph.D. Program. Melalui program ini, dosen-dosen dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah diharapkan dapat melanjutkan studi doktoral di Monash University dengan dukungan akademik yang kuat. Hal ini sejalan dengan misi ALPTK PTMA untuk memperkuat kapasitas akademik dan memperluas wawasan internasional para pendidik bangsa.

Dalam ranah pertukaran akademik, kerja sama ini juga mencakup program exchange students, visiting professors, dan invited speakers dari Monash University. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dan dosen PTMA akan memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari para pakar internasional, berbagi pengalaman riset, serta menjalin jejaring akademik lintas negara. Program ini diharapkan mampu mendorong terciptanya atmosfer akademik yang inklusif dan berdaya saing global.

Ketua ALPTK PTMA menyampaikan bahwa kerja sama dengan Monash University merupakan bukti nyata bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah siap bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman. “Kami ingin memastikan bahwa para dosen dan mahasiswa di lingkungan PTMA memiliki akses terhadap kolaborasi internasional yang bermakna, baik dalam bentuk riset bersama, publikasi, maupun mobilitas akademik,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Monash University menyambut baik langkah kolaboratif ini dan menilai bahwa kerja sama dengan PTMA merupakan peluang besar untuk memperkuat riset pendidikan berbasis nilai-nilai kemanusiaan dan moderasi. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan inovasi dan publikasi yang berkontribusi bagi kemajuan sistem pendidikan di kawasan Asia Tenggara.

Melalui rangkaian kegiatan ProfunEdu-11 di Monash University dan kerja sama yang berkelanjutan ini, ALPTK PTMA menegaskan perannya sebagai jembatan antara pendidikan tinggi nasional dan dunia internasional. Sinergi ini bukan hanya memperluas cakrawala akademik, tetapi juga memperkokoh posisi PTMA sebagai lembaga yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global dalam menghadapi tantangan pendidikan masa depan.

Rektor UMS Pimpin Delegasi 25 Pimpina PTMA teken MoU dengan Dubes RI Malaysia untuk Pprogram KKN KI

Kuala Lumpur, 9 September 2025

Sebagai bentuk komitmen nyata terhadap penguatan akses pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia, sebanyak 102 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia menandatangani perjanjian kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur.

Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tersebut dilaksanakan pada Selasa, 9 September 2025, bertempat di Hotel Nilai Spring Resort, Negeri Sembilan, Malaysia. Acara ini turut disaksikan langsung oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Malaysia, Dato’ Indera Hermono, serta pimpinan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia.

Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, yang hadir sebagai salah satu pihak penandatangan, menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar dokumen formal, melainkan langkah strategis untuk memperluas pengabdian perguruan tinggi Indonesia di ranah internasional. “Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung KBRI dalam menyediakan pendidikan yang layak dan bermutu bagi anak-anak pekerja migran. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional dan pengabdian masyarakat, mahasiswa dapat menghadirkan kontribusi nyata di Sanggar Bimbingan yang menjadi pusat pembelajaran anak-anak Indonesia di Malaysia,” ujarnya.

Dalam perjanjian tersebut, para pihak sepakat bahwa ruang lingkup kerja sama meliputi:

  1. Penyelenggaraan KKN Internasional Mengajar dan pengabdian masyarakat di Sanggar Bimbingan.
  2. ⁠Pengembangan sumber daya manusia untuk peningkatan kualitas tenaga pendidik.
  3. ⁠Penempatan mahasiswa dan dosen pembimbing di berbagai wilayah di Semenanjung Malaysia.

Duta Besar RI untuk Malaysia, Dato’ Indera Hermono, menyambut baik inisiatif ini dan menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi Indonesia dengan KBRI. “Kami percaya, melalui sinergi ini, pendidikan anak-anak pekerja migran dapat ditingkatkan kualitasnya sehingga mereka tidak tertinggal dalam memperoleh hak pendidikan. Program ini sekaligus memperkuat citra positif Indonesia di mata dunia,” ungkapnya.

Kesepakatan kerja sama ini akan berlaku selama empat tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Kehadiran 102 perguruan tinggi sebagai peserta penandatangan menunjukkan tingginya komitmen dunia akademik Indonesia dalam memberikan solusi konkret atas tantangan pendidikan di luar negeri.

Dengan adanya MoU ini, diharapkan tercipta keberlanjutan program pendidikan dan peningkatan kapasitas generasi muda Indonesia di Malaysia, sehingga mampu membangun masa depan yang lebih baik bagi komunitas diaspora Indonesia.

ICEDUALL 8 Hosted by Aklan State University: Harnessing DL for Personalized & Adaptive Education

Kalibo, Philippines, August 20, 2025 – Aklan State University (ASU), Philippines, hosted The 8th International Conference on Education for All (ICEDUALL) with the theme “Harnessing DL for Personalized & Adaptive Education.” The conference was organized by the Association of Muhammadiyah-‘Aisyiyah Teacher Training and Education Faculties (Asosiasi LPTK PTMA) in collaboration with Aklan State University, and supported by Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Indonesia.

The hybrid-format conference brought together approximately 100 participants from 25 Muhammadiyah-‘Aisyiyah universities in Indonesia and one university from the Philippines. The presence of scholars and researchers from various countries reflects a shared commitment to advancing inclusive and equitable education for all.

In his welcoming remarks, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., Chair of the PTMA Association, conveyed his sincere appreciation to all participants and international partners.

“It is truly an honor to welcome you all to the 8th International Conference on Education for All (ICEDUALL). This event is organized by the Association of Education Faculties of Muhammadiyah-Aisyiyah Universities, in collaboration with Aklan State University, Philippines, and with the support of Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Indonesia,” he stated.

He also highlighted the achievements of Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) as the top-ranked private university in Indonesia. With more than 3,000 Scopus-indexed documents, a QS World University Ranking at approximately 1,400, and a student body exceeding 40,000, UMS continues to strengthen its position as a global center for education, research, and innovation.

“This conference serves as a gateway to strengthening academic and research partnerships between Aklan State University and UMS, particularly in research, publications, student and faculty exchanges, and joint academic programs,” he added.

Meanwhile, Prof. Dr. Jeffrey A. Clarin, President of Aklan State University, expressed his optimism about the collaboration between UMS and ASU, emphasizing its potential to enhance the quality of education in both institutions.

“Collaboration between UMS and Aklan State University will improve education quality of both universities. We can collaborate in student exchange, research, and community service,” he affirmed.

ICEDUALL 8 also featured two distinguished international speakers who offered fresh perspectives on education in the era of artificial intelligence (AI).

Dr. Arvin Kim Arnilla of Aklan State University underscored the importance of inclusiveness in education. According to him, educational systems must be capable of adapting to the AI era to ensure that all learners, without exception, have access to relevant and meaningful learning opportunities.

“Inclusiveness in education can adapt with the AI era,” he explained, stressing that technology should not replace teachers but rather expand access, accommodate diverse learner needs, and ensure that no one is left behind in the learning process.

On the other hand, Prof. Dr. Anam Sutopo of Universitas Muhammadiyah Surakarta delivered a presentation on “Harnessing Deep Learning for Personalized and Adaptive Education in the AI Era.” He explained how deep learning technologies can be applied to create more personalized and adaptive learning models. Artificial intelligence, he noted, can identify students’ learning patterns, map their strengths and weaknesses, and provide faster and more accurate feedback. Consequently, AI has the potential to accelerate the realization of truly student-centered education.

Together, the two presentations emphasized that integrating inclusivity with artificial intelligence technologies is essential in shaping future education systems.

In his closing message, Prof. Harun Joko Prayitno expressed his sincere appreciation to the organizing committees, distinguished speakers, and all participants who had dedicated their time, effort, and expertise to ensure the success of the 8th International Conference on Education for All (ICEDUALL). He emphasized that the collective contributions of various stakeholders, both from Indonesia and the Philippines, had created a vibrant academic forum that fostered meaningful dialogue, strengthened international collaboration, and advanced the shared vision of inclusive and adaptive education.

“Please enjoy the conference, and I hope you will experience fruitful discussions, exchange valuable insights, and build sustainable networks that will contribute to the future of education. May this event not only be an academic milestone but also a truly memorable experience for all of us,” he commented.

The 8th ICEDUALL Conference not only served as an academic platform but also as a bridge to strengthen sustainable international collaboration between Indonesia and the Philippines in advancing global education.

Misi Kemanusiaan Menghadirkan Pendidikan untuk Semua yang Berkelanjutan: KKN Kemitraan Internasional Angkatan Ke-13 LPTK PTMA

Kuala Lumpur, 24 Juli 2025

KKN Kemitraan Internasional Angkatan 13 LPTK PTMA periode ini telah diikuti oleh sebanyak 25 mahasiswa dan 22 dosen yang berasal dari 16 PTMA, 1 PTN, dan 1 PTS dengan penempatan lokasi berjumlah 11 SB dan ICC di wilayah semenanjung Kuala Lumpur dan Johor Bahru, yaitu SB Subang Mewah, SB Srimuda, SB Kampung Baru, SB Ampang, SB Pandan Jaya, SB Selayang, SB Pelita Ilmu, SB Sungai Besi Indah, SB Permai Penang, SB At-Tanzil, dan ICC Muar.

Peserta Program KKN KI LPTK PTMA sejak pertama kali dilaksanakan sudah diikuti sebanyak 664 mahasiswa dan 225 dosen yang berasal dari 62 PTMA yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan penempatan lokasi berjumlah 47 SB/ICC/PPWNI di semenanjung Kuala Lumpur, Penang, dan Johor Bahru.

Semangat dan harapan menyelimuti SB Sungai Besi Indah, Selangor. Saat ini, mahasiswa dari Indonesia resmi memulai pengabdian mereka dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kemitraan Internasional Angkatan ke-13. Program ini merupakan bagian dari kolaborasi strategis antara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) – Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) dan sekolah Indonesia di Malaysia dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Sekolah Dasar (SD).

Dalam program tersebut, LPTK-PTMA menyelenggarakan program KKN-KI tahun ini dengan melibatkan 25 mahasiswa dan 22 dosen dari 1 PTN, 1 PTS, dan 16 PTMA. Mahasiswa pilihan dari berbagai PTMA, yakni Rinanti Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dari Universitas Muhammadiyah Kupang didampingi oleh Bapak Dosen Universitas Muhammadiyah Kupang yaitu Bp. Julhidayat Muhsam, S.Pd., M.Pd dan dibawah bimbingan Dr. Sri Slamet, M.Hum., M.Pd hadir dengan semangat mengabdi dan belajar lintas budaya.

Kehadiran mereka disambut hangat oleh keluarga besar SB Sungai Besi Indah, yang dengan penuh antusiasme membuka pintu kolaborasi dalam kegiatan belajar-mengajar, pembinaan karakter, serta penguatan identitas kebangsaan bagi anak-anak SD Indonesia di Malaysia. Dalam sambutannya, Bp. Aris dan Bp. Andi selaku Perwakilan Pengelola SB Sungai Besi Indah menyampaikan ucapan selamat datang dan apresiasi atas partisipasi para mahasiswa dalam program KKN Internasional. Beliau juga menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan KKN yang akan berfokus pada pengajaran anak-anak SD Indonesia di Malaysia.

Selain itu, Bp. Aris juga menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan di masa depan, khususnya dalam memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan anak-anak Indonesia di SB Sungai Besi Indah, Selangor. Momen penyambutan di SB Sungai Besi diawali dengan sesi perkenalan dan ramah tamah antara mahasiswa, guru, dan siswa. Antusiasme para siswa terlihat jelas, terutama saat mereka menampilkan Tari Saman.

Tari Saman adalah salah satu warisan budaya tak benda Indonesia yang berasal dari suku Gayo di Aceh, khususnya dari wilayah Gayo Lues. Tarian ini dikenal karena keunikan formasi dan gerakannya yang cepat dan harmonis, dilakukan secara duduk berjajar oleh sekelompok penari. Tari Saman biasanya ditampilkan untuk merayakan peristiwa penting seperti kelahiran, pernikahan, atau peringatan hari besar keagamaan. Lirik lagu yang mengiringi tari ini menggunakan bahasa Gayo dan sering mengandung pesan moral, keagamaan, atau sindiran sosial. Ciri khas utama dari tari Saman adalah keselarasan gerak tangan, tubuh, dan kepala yang dilakukan secara serempak tanpa alat musik, hanya mengandalkan suara tepuk tangan, hentakan dada, dan lantunan syair.

Dalam konteks budaya Islam di Aceh, tari Saman juga merepresentasikan semangat kebersamaan dan pengabdian kepada nilai-nilai religius. Pada tahun 2011, UNESCO menetapkan Tari Saman sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak. Pengakuan ini menegaskan pentingnya pelestarian Tari Saman sebagai identitas budaya Aceh yang kaya akan nilai estetika, etika, dan spiritualitas. Tarian ini pula sebagai bentuk sambutan kepada kakak-kakak yang berkegiatan di SB Sungai Besi Indah.

Program KKN ini akan berlangsung selama lebih dari satu bulan, dengan fokus kegiatan pada penguatan literasi, pengembangan media interaktif, serta pengenalan budaya Indonesia lewat media pembelajaran pop-up book. Dengan dibukanya

ALPTK PTMA dan UHAMKA Selenggarakan Ramadan Deep Learning: Kupas Pembelajaran Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan Bersama Mendikdasmen RI

Jakarta, 25 Maret 2025

Dalam rangka menciptkan pembelajaran yang mendalam dam menyenangkan Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (ALPTK) Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) bersama Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) menggelar Ramadan Deep Learning (Online Focus Group Discussion) dengan tajuk Deep Learning: Mind, Meaning, Joyfully melalui platform Zoom Meeting dan Youtube, Selasa (25/3).

Dalam kesempatan berharga ini, acara Ramadan Deep Learning menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Prof. Abdul Mu’ti selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), serta Prof. Gunawan Suryoputro selaku Rektor Uhamka. Selain itu, kegiatan ini turut dihadiri oleh segenap stakeholder Uhamka serta peserta Focus Group Discussion (FGD) yang berasal dari kalangan tenaga kependidikan, baik di tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Ramadan Deep Learning ini juga mengundang beberapa narasumber dari berbagai ahli, diantaranya Prof. Harun Joko Prayitno Ketua Asosiasi LPTK PTMA, Prof. Suyanto Guru Besar UNY, dan Prof. Marc Gendron dari University de Montreal.

Rektor Uhamka, Prof. Gunawan, yang hadir sebagai Keynote Speaker, menekankan bahwa penerapan aspek mindful, meaningful, dan joyful dalam konsep deep learning dapat menjadi pendekatan yang efektif bagi para pendidik dalam menciptakan pembelajaran yang lebih dinamis. “dengan menghadirkan proses pembelajaran yang aktif, interaktif, dan komunikatif, para pendidik dapat mendorong siswa untuk lebih terlibat secara kognitif, emosional, dan sosial dalam kegiatan belajar” ujarnya. “Hal ini pada akhirnya akan membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di era modern”. lanjutnya

Dalam paparannya Menteri Dikdasmen RI Prof. Abdul Mu’ti menekankan bahwa Deep Learning merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi learning loss yang dialami oleh siswa dalam beberapa tahun terakhir. “Deep Learning akan mengajak sistem pembelajaran saat ini untuk menemukan metode baru, di mana kemampuan berpikir siswa tidak hanya ditentukan oleh nilai dan angka, tetapi juga melalui proses pembelajaran yang menghubungkan fakta yang mereka temukan dengan makna yang mereka dapatkan,” ujar Prof. Abdul Mu’ti

Prof. Abdul Mu’ti menambahkan bahwa pembelajaran pembelajaran dengan mengadopsi Deep Learning itu mampu mengatasi learning loss yang saat ini tengah dialami banyak siswa di Indonesia. Metode ini menuntun sistem pendidikan untuk berinovasi, sehingga kemampuan berpikir siswa tidak lagi sekadar diukur dengan angka dan nilai, tetapi melalui pengalaman belajar yang menghubungkan temuan fakta dengan pemahaman yang bermakna yang didapakan oleh siswa.

Prof. Harun Joko Prayitno dalam pemaparannya menjelaskan gambaran konsep deep learning, yang tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga mendorong inovasi dalam dunia pendidikan. Salah satu upaya konkret yang direncanakan adalah pembentukan Simposium Deep Learning PTMA, yang diharapkan dapat menjadi wadah bagi para akademisi, pendidik, dan praktisi pendidikan untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, serta mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA). “Webinar ini sangat bermanfaat dalam dunia pendidikan, untuk selanjutnya dapat menghadirkan praktisi atau pelaku yg menerapkan deep learning, bisa guru, pengawas, atau kepala sekolah” Tambah Harun Joko Prayitno dalam paparannya. Selain itu, kegiatan ini juga dapat dilakukan berseri agar menumbuhkan minat para akademisi dalam meningkatkan pembelajaran yang berkonsep deep learning. Pemikiran-pemikiran tersebut tidak hanya berhenti pada pembahasan awal, tetapi juga akan terus berkembang dan dianalisis lebih lanjut dalam Jurnal Deep Learning. Jurnal ini akan menjadi media akademik yang mewadahi berbagai gagasan, penelitian, dan temuan terbaru yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Melalui publikasi ini, berbagai perspektif akan dikaji secara mendalam guna memperkaya wawasan serta memberikan kontribusi ilmiah yang signifikan bagi pengembangan teori dan praktik di bidang yang relevan. Selain itu, jurnal ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi yang ingin menggali lebih jauh mengenai isu-isu terkini yang sedang berkembang.

ALPTK PTMA Rintis Kerja Sama dengan Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center

Taipei, 15 Februari 2025

Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (ALPTK PTMA) merintis kerja sama dengan Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center untuk memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan dan dakwah Islam. Kunjungan ini berlangsung pada Sabtu, 15 Februari 2025, di Taipei, Taiwan.

Delegasi ALPTK PTMA yang berjumlah 27 orang terdiri atas perwakilan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Muhammadiyah Kupang, Universitas Muhammadiyah Sampit, dan Universitas Muhammadiyah OKU Timur. Rombongan ini dipimpin oleh Ketua ALPTK PTMA, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., serta didampingi oleh sejumlah akademisi dan tenaga pendidik dari masing-masing perguruan tinggi.

Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas berbagai peluang kerja sama, termasuk pengembangan program pendidikan Islam, pelatihan tenaga pendidik, dan pertukaran mahasiswa dan dosen. Selain itu, kunjungan ini juga bertujuan mempererat hubungan antara komunitas Muslim Indonesia di Taiwan dengan institusi pendidikan Islam di tanah air.

Pada kesempatan tersebut, Ketua ALPTK PTMA, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyampaikan dukungannya kepada Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center, yang telah merintis pendidikan Islam di Taiwan. Ia mengapresiasi upaya pusat pendidikan tersebut dalam memperkenalkan nilai-nilai Islam serta memberikan wadah bagi umat Muslim untuk belajar dan berkembang di lingkungan internasional.

“Kami sangat mendukung inisiatif Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center dalam mengembangkan pendidikan Islam di Taiwan. Upaya ini merupakan langkah penting dalam menjaga eksistensi dan kualitas pendidikan berbasis nilai-nilai Islam di kancah global,” ujar Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum.

Perwakilan dari Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center menyambut baik inisiatif ini dan berharap sinergi dengan ALPTK PTMA dapat memberikan manfaat nyata bagi umat Islam di Taiwan, terutama dalam bidang pendidikan dan dakwah. Pusat pendidikan ini memiliki peran strategis dalam menyediakan pendidikan Islam bagi masyarakat Muslim di Taiwan. Selain memperkuat aspek akademik, kerja sama ini juga membuka peluang bagi pengembangan kegiatan dakwah berbasis pendidikan. Dalam diskusi yang berlangsung, kedua belah pihak sepakat bahwa dakwah harus dikembangkan dengan pendekatan yang adaptif dan kontekstual, sehingga dapat lebih efektif dalam menyampaikan nilai-nilai Islam kepada berbagai lapisan masyarakat.

Salah satu bentuk konkret dari kerja sama ini adalah rencana pengiriman tenaga pengajar dan dari perguruan tinggi Muhammadiyah untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan dakwah di Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center. Melalui program ini, diharapkan masyarakat Muslim di Taiwan dapat memperoleh akses yang lebih luas terhadap pendidikan Islam berkualitas, baik dalam aspek akademik maupun keagamaan. Di samping itu, kerja sama ini juga dapat memperkuat jejaring global perguruan tinggi Muhammadiyah dengan institusi pendidikan Islam di luar negeri. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan semakin banyak mahasiswa dan dosen yang dapat berpartisipasi dalam program pertukaran dan penelitian lintas negara yang berfokus pada pengembangan pendidikan Islam.

Kerja sama ini diharapkan dapat segera direalisasikan dalam bentuk program konkret yang bermanfaat bagi kedua belah pihak serta mendukung perkembangan pendidikan Islam di tingkat internasional. Dengan adanya sinergi ini, ALPTK PTMA dan Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center dapat bersama-sama berkontribusi dalam menciptakan sistem pendidikan Islam yang lebih inklusif dan berdaya saing global.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan, yang turut berperan dalam menjembatani kerja sama antara ALPTK PTMA dan Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center. PCIM Taiwan aktif dalam berbagai kegiatan dakwah, pendidikan, dan sosial di Taiwan, sehingga kolaborasi ini diharapkan semakin memperkuat peran Muhammadiyah dalam pengembangan pendidikan Islam di kancah internasional.

[wzslider autoplay=”true”]

Bangun Kemitraan Strategis: ALPTK-PTMA dan NTNU Kolaborasi Inovasi Pendidikan dan Riset-Publikasi Bersama

Taipei, 15 Februari 2025

Pada tanggal 14 Februari 2025, Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (ALPTK-PTMA), yang terdiri dari enam universitas, yaitu Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Sampit, Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Universitas Muhammadiyah Oku Timur, melakukan kunjungan akademik ke National Taiwan Normal University (NTNU), Taiwan. Kunjungan ini merupakan rangkaian lanjutan dari kolaborasi konferensi ICEDUALL-6 dengan menghadirkan Prof. Chun-Yen Chang, ahli inovasi teknologi pembelajaran dari NTNU.

Kunjungan ini dipimpin oleh Ketua ALPTK-PTMA, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, dan diterima langsung oleh pimpinan NTNU yang diketuai oleh Prof. Chien-Fu Lin selaku Ketua Departemen Pendidikan NTNU. Pertemuan ini dihadiri lengkap oleh semua Pimpinan Fakultas Pendidikan NTNU. Kegiatan ini bertujuan untuk menjajaki kolaborasi akademik yang dapat mendukung pengembangan kualitas pendidikan tinggi di kedua institusi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi pengenalan yang menghadirkan para pakar di bidang pendidikan dari kedua belah pihak. Prof. Shu-Hua Tang memberikan presentasi tentang para ahli pendidikan di NTNU serta program-program pascasarjana yang tersedia di universitas tersebut. Dalam sesi berikutnya, Prof. Hsin-Heng Chen memaparkan sistem pelatihan guru (teacher training process) yang diterapkan di NTNU, memberikan wawasan tentang kebijakan dan metodologi pendidikan guru di Taiwan. Selain itu, Prof. Tsui-Chun Hu memperkenalkan program pembelajaran bahasa Mandarin bagi mahasiswa internasional, yang menjadi bagian dari upaya NTNU dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi.

Selanjutnya, Prof. Chun-Yen Chang menyampaikan materi mengenai Institute for Research Excellence in Learning Sciences, sebuah lembaga riset unggulan yang berfokus pada inovasi dalam pembelajaran dan pendidikan berbasis sains. Presentasi ini memberikan wawasan terkait perkembangan penelitian di NTNU yang dapat menjadi referensi bagi ALPTK-PTMA dalam meningkatkan kualitas riset dan pengajaran. Berbagai diskusi yang berlangsung selama sesi ini membuka peluang bagi akademisi dari kedua institusi untuk saling bertukar gagasan dan pengalaman dalam pengembangan pendidikan.

Dari pihak ALPTK-PTMA, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., selaku Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Universitas Muhammadiyah Malang, memaparkan berbagai peluang kolaborasi yang dapat dijalin dengan NTNU. Beberapa bentuk kerja sama yang diusulkan meliputi student mobility, program double degree, staff mobility, penelitian bersama (research collaboration), program visiting professor, serta penyelenggaraan short-course. Inisiatif ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi dosen dan mahasiswa di kedua institusi, khususnya dalam memperluas wawasan akademik dan meningkatkan kualitas pendidikan berbasis global.

Kegiatan kunjungan ini diakhiri dengan kesepakatan untuk langsung memulai riset bersama antara Fakultas Pendidikan NTNU dengan beberapa LPTK PTMA yang hadir pada pertemuan tersebut. Riset tentang peningkatan mutu pendidikan guru, riset tentang budaya belajar di dua negara, dan riset tentang pengembangan pendidikan guru di dua negara menjadi fokus utama. Hal ini penting sebagai upaya untuk meningkatkan keprofesionalan guru sejati pada era industri 5.0.

Ketua tim kolaborasi riset bersama dari NTNU langsung dipimpin oleh Prof. Chun-Yen Chang selaku Ketua Institute for Research Excellence in Learning Sciences, sedangkan koordinator dari ALPTK-PTMA langsung dipimpin oleh Ketua LPTK-PTMA, Prof. Harun Joko Prayitno. Riset bersama ini melibatkan dosen-dosen dari Fakultas Pendidikan NTNU dan dosen-dosen dari LPTK PTMA, didanai bersama, didiseminasikan bersama, dan dipublikasikan bersama.

Komitmen kedua belah pihak dalam menjalin kerja sama akademik yang berkelanjutan ini sangat penting dan diharapkan akan dikembangkan lebih lanjut, termasuk pertukaran mahasiswa, visiting professor, dan pengembangan akademik lainnya. Dengan adanya pertemuan ini, diharapkan terjalin sinergi antara ALPTK-PTMA dan NTNU dalam mengembangkan inovasi pendidikan, memperluas jaringan akademik internasional, serta meningkatkan mutu pengajaran dan penelitian. Ke depan, kerja sama ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang lebih luas bagi pengembangan pendidikan tinggi, baik di Indonesia maupun di Taiwan. @alptkptma

[wzslider autoplay=”true”]

Rakernas XVI Bali 2024: Adaptasi dan Inovasi Pengembangan LPTK PTMA Berorientasi Pendidikan Holistik Progresif

Denpasar Bali, 18 Oktober 2024

Tema besar yang diangkat oleh ALPTK PTMA pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVI Tahun 2024 adalah Adaptasi dan Inovasi Pengembangan LPTK PTMA Berorientasi Pendidikan Holistik Progresif. Tema ini dipilih karena pertimbangan era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, & Ambiguity) saat ini telah menjadi sebuah kondisi yang tidak bisa dihindari, tak bisa terelakkan. Kondisi ini harus dihadapi oleh masyarakat di seluruh dunia, termasuk masyarakat pendidikan dan lingkungan pendidikan yang menyertainya. Perang, pandemi, dan terutama pergeseran teknologi yang amat sangat cepat, serta kondisi politik saat ini menunjukkan betapa banyak hal yang berubah dengan sangat cepat. Oleh sebab itu, perubahan masyarakat global ini menuntut pengelollaan dan pengembangan LPTK untuk dapat beradaptasi dan senantiasa melakukan inovasi tata kelola pendidikan. Tujuannya adalah agar LPTK PTMA tetap dapat berhikmat dan bermanfaat serta mampu mendinamisasi pendidikan yang sedang terjadi dan senantiasa berproses di lapangan.

Kegiatan Rakernas XVI tahun 2024 ini berlangsung di Hotel Haris Denpasar 15-18 Oktober 2024 bekerja sama dengan BIM (Bali International Mas Mansyur). Kegiatan ini dihadiri oleh sebanyak lebih dari 174 peserta yang berasal lebih dari perwakilan 50 LPTK PTMA. Ketua ALPTK PTMA, Harun Joko Prayitno yang sekaligus sebagai WR Akademik UMS melaporkan pada pembukaan bahwa saat ini terdapat 102 LPTK di lingkungan PTMA, 22 LPTK PTMA di antaranya adalah sudah menjadi penyelenggara PPG. Melalui ALPTK PTMA telah mempu mengantarkan lebih dari 65% persen prodi-prodi kependidikan di lingkungan LPTK PTMA meraih peringkat akreditasi unggul dari BAN PT/LAMDIK dan/atau Lembaga Akreditasi Internasional. Berbagai kegiatan ALPTK PTMA yang mengarah ke OBE, konferensi internasional ProfunEdu yang sdh memasuki tahun VII, ICEDUALL yang sudah memasuki tahun ke-6, pelaksanaan KKN Kemitraan Internasional Angkatan ke-12, dan berbagai kegiatan inovasi-adaptasi lainnya diharapkan mampu menempatkan reputasi LPTK PTMA tetap menjadi lembaga penyelenggara pendidikan yang terdepan-terpercaya dalam kerangka menghasilkan guru-guru profesional sekaligus sebagai guru abad 21 penggerak perubahan pendidikan di tengah-tengah masyarakat pendidikan global.

Dalam arahan dan sambutannya, Prof. Bambang Setiaji selaku Ketua Majelis Dikti Litbang PP dan Prof. Sofyan Anif selaku salah satu Pembina ALPTK PTMA mendorong agar LPTK PTMA senantiasa dapat melakukan berbagai inovasi-inovasi horisontal dan pengembangan vertikal supaya tetap mampu menjawab tantangan pendidikan. Desain kurikulumnya, kompetensi dosennya, racikan mata kuliah pencirinya, aktivitas PBM-nya dapat dikembangkan dengan karakteristiknya dan keunggulannya masing-masing supaya keberadaan LPTK PTMA tetap mampu menjawab tantangan zaman. Demikian papar Ketua Majelis Dikti Litbang PP dan Dewan Pembina ALPTK PTMA.

Pada saat sharing session tata kelola pengembangan LPTK dan PPG dengan FKIP UMM Malang sepakat ke depan LPTK PTMA perlu mendesain pendidikan kolaborasi dengan LPTK Luar Negeri dan kolaborasi dengan masyarakat global. Adaptasi LPTK PTMA, baik ubah bentuk, perubahan/penyesuaian nama prodi, penambahan MK IT bagi mahasiswa LPTK PTMA akan manjadi salah satu ciri positif bagi lulusan-lulusan LPTK PTMA.

Untuk menjawab tantangan Revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 dalam dunia pendidikan diperlukan kecakapan hidup abad 21 atau lebih dikenal dengan istilah 4C (Creativity, Critical Thingking, Communication, Collaboration). Oleh s sebab itu,diperlukan LPTK PTMA mampu menghasilkan guru menjadi pribadi yang kreatif, mampu mengajar, mendidik, menginspirasi serta menjadi suri teladan. Demikian disampaikan oleh Prof. Irwan Akib mewakili PP Muhammadiyah pada saat penutupan Rakernas ALPTK PTMA XVI. alptkptma, mencerahkan-unggul-mendunia.

ProfunEdu-X: Artificial Intelligence, Digital Education, and Mathematics: A Triad for VUCA Resilience

Hybrid, 10 Oktober 2024

VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity) era has become an inevitable condition today that has to be faced by people worldwide. War, pandemic, fast-technological shift, and political condition today shows how things change very fast and put a demand to global citizen to adapt with the condition. To address the challenges of VUCA, organizations and individuals need to develop agility, resilience, and the ability to continuously learn and innovate. Moreover, cross-sector and interdisciplinary collaboration is key to overcoming the complexity and ambiguity encountered.
Looking at this condition, The Association of Educational Institutions for Teacher Training at Muhammadiyah-Aisyiyah Universities (ALPTK-PTMA) sees the condition by conducting the international conference of Profunedu 2024 as a medium for educational experts, researchers, and partitioners to share their thoughts and findings regarding how the educational institution prepare their students to be ready for the VUCA era, so that they can compete to each other.

The 2024 ProfunEdu International Conference will discuss topics related to the VUCA era. It is crucial for higher education institutions to adapt to the rapid advancements of the VUCA era. This theme was chosen due to the recognized importance of initiating changes in the education sector, which is continuously evolving.

Ladies and gentlemen, to strengthen the quality of the conference, Profunedu 2024 has invites three prominent speakers. The first speaker is Rimajon Satlikova, Ph.D. from University of Tashkent, Uzbekistan. The second speaker is Prof. Dr. Heris Hendriana from IKIP Siliwangi, Indonesia. The third speaker is Prof. Dr. Amirullah Abduh from Universitas Negeri Makassar, Indonesia. While to strengthen the publication quality, the conference has collaborated with two reputable publishers and five Scopus-indexed journals.

ALPTK-PTMA Chairperson, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, expressed that the integration of AI, digital education, and mathematical thinking can provide robust solutions for future challenges. “In an era where change is the only constant, educators must embrace these fields to equip students with the tools they need to thrive in unpredictable circumstances,” he said.

One of the key features of the conference is its collaboration with two reputable international publishers and five Scopus-indexed journals, ensuring high-quality academic output. Researchers and practitioners from across the globe are presenting papers and sharing insights on innovative educational practices, focusing on how AI and digital technologies can enhance learning experiences and how mathematical modeling can help students navigate complex systems.

Through these collaborative efforts, ProfunEdu 2024 aims to set new standards in higher education, inspiring institutions to implement adaptive, technology-driven strategies in their curricula. As the global educational landscape continues to evolve, fostering agility, innovation, and resilience in students is no longer an option but a necessity.

On this occasion, Rimajon Sotlikova, Ph.D., as the first speaker, emphasized the importance of integrating critical thinking skills into language learning. With these critical thinking abilities, students will be able to apply their skills comprehensively and generate critical ideas that can be adapted to the VUCA era. In addition, the ability to collaborate also influences writing skills in current language learning. The use of AI in language learning also presents opportunities and challenges. Personalized Learning: AI tailors learning experiences to individual needs, fostering deeper understanding and engagement. Increased Accessibility: AI tools can bridge gaps in learning, providing support for diverse learners and addressing accessibility needs. Ethical Considerations: Responsible implementation of AI ensures fairness, privacy, and the responsible use of technology, he stated.

The integration of AI in education has become increasingly prominent, transforming the learning landscape. On this occasion, Prof. Dr. Amirullah Abduh, Ph.D., presented the transformative potential of AI as a supporting tool for language learning and academic writing.

Prof. Dr. Heris Hendriana delivered an engaging presentation on the importance of mathematics in achieving success in the VUCA era. In his presentation, Prof. Hendriana emphasized that mathematical skills are essential for navigating the complex and uncertain challenges of today’s world. He explained how understanding mathematical concepts can assist individuals in making better decisions and formulating effective strategies amidst rapid changes.
“Mathematics is not just about numbers; it is a tool that can help us analyze situations and solve problems logically,” he stated. Prof. Hendriana also provided concrete examples of how the application of mathematics in various fields, such as business, technology, and social sciences, can offer a competitive advantage.

The conference is expected to spark new ideas, collaborations, and policies that will shape the future of education in a world that demands continuous adaptation. With the growing impact of AI and digital transformation, and the increasing relevance of mathematical problem-solving, ProfunEdu 2024 stands as a beacon for educational reform in the VUCA era.

Asosiasi LPTK PTM © 2016 Back to Top