Feature

ProfunEdu Internasional ke-12 Bahas Transformasi Pendidikan di Era Artificial Intelligence

Lampung, 25 Juni 2026

Sebanyak puluhan akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai perguruan tinggi mengikuti The 12th Progressive and Fun Education (ProfunEdu) International Conference yang diselenggarakan di Emersia Hotel, Bandar Lampung, Kamis (25/6/2026). Konferensi internasional yang digelar oleh Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (ALPTK PTMA) ini menjadi wadah pertukaran gagasan, penguatan kolaborasi riset, serta peningkatan kualitas publikasi ilmiah bereputasi internasional.

Dalam laporannya, Prof. Dr. Anam Sutopo, selaku Pengurus ALPTK PTMA sekaligus Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menyampaikan bahwa antusiasme peserta pada penyelenggaraan konferensi tahun ini cukup tinggi.

Ia melaporkan bahwa terdapat 89 paper yang telah diterima panitia. Paper tersebut berasal dari 23 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) maupun perguruan tinggi swasta lainnya yang berpartisipasi dalam konferensi internasional tersebut.

“Seluruh paper akan melalui proses review sesuai standar akademik. Paper terpilih (selected papers) akan dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus, sedangkan paper lainnya akan diterbitkan dalam prosiding Atlantis Press,” jelas Prof. Anam.

Menurutnya, publikasi ilmiah internasional menjadi salah satu indikator penting dalam meningkatkan kualitas penelitian, memperluas jejaring kolaborasi antarpeneliti, sekaligus memperkuat reputasi institusi pendidikan tinggi di tingkat global.

Konferensi ProfunEdu ke-12 menghadirkan sejumlah pakar pendidikan dari Indonesia dan Malaysia yang membahas berbagai isu strategis mengenai transformasi pendidikan pada era digital dan kecerdasan artifisial.

Narasumber pertama, Prof. Dr. Zulkardi dari Universitas Sriwijaya, menyampaikan materi bertajuk “Bridging Context and Computation: A Realistic Mathematics Education (RME) Approach to STEAM Learning.” Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa pembelajaran matematika perlu dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata agar lebih bermakna bagi peserta didik. Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dipadukan dengan pembelajaran STEAM dinilai mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, serta kemampuan komputasional siswa melalui pengalaman belajar yang kontekstual dan kolaboratif.

Sementara itu, Prof. Dr. Amirullah Abduh dari Universitas Negeri Makassar membawakan materi “How Language Become a Leverage of A Nation to Survive during AI Era.” Ia menekankan bahwa bahasa merupakan aset strategis suatu bangsa dalam menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan artifisial. Penguasaan bahasa, baik bahasa nasional maupun bahasa internasional, menjadi faktor penting dalam menghasilkan pengetahuan, mengembangkan inovasi, serta memastikan masyarakat mampu memanfaatkan teknologi AI tanpa kehilangan identitas budaya dan nilai-nilai kebangsaan.

Pembicara dari Malaysia, Dr. Miftachul Huda dari Universiti Pendidikan Sultan Idris, memaparkan materi “Digital Literacy and Ethical Character: Empowering Educators and Students in the Age of Artificial Intelligence.” Ia menjelaskan bahwa literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, menjaga keamanan digital, serta membangun karakter yang beretika dalam memanfaatkan kecerdasan artifisial. Menurutnya, guru dan peserta didik harus dibekali kompetensi digital yang seimbang dengan nilai moral agar penggunaan AI mampu memberikan manfaat secara optimal.

Selanjutnya, Dr. Mardiana dari Universitas Muhammadiyah Lampung menyampaikan materi “The Role of Digital-Based Education in The VUCA Era.” Ia menjelaskan bahwa pendidikan berbasis digital menjadi salah satu strategi penting dalam menghadapi kondisi dunia yang penuh dengan volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas (VUCA). Transformasi digital di bidang pendidikan diharapkan mampu meningkatkan fleksibilitas pembelajaran, memperluas akses pendidikan, serta mempersiapkan lulusan yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Adapun Prof. Dr. Dian Artha Kusumaningtyas dari Universitas Ahmad Dahlan membahas tema “Innovating Physics Education: Integrating Computational Modeling and Digital Simulations to Foster Analytical Skills.” Ia memaparkan bahwa pemanfaatan pemodelan komputasi dan simulasi digital dalam pembelajaran fisika mampu membantu mahasiswa memahami konsep-konsep abstrak secara lebih mudah. Selain itu, pendekatan tersebut dapat meningkatkan kemampuan analitis, penalaran ilmiah, dan keterampilan menyelesaikan permasalahan yang kompleks sehingga pembelajaran fisika menjadi lebih interaktif dan relevan dengan perkembangan teknologi.

Ketua ALPTK PTMA sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan BIM University, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pemakalah yang telah berpartisipasi dalam The 12th ProfunEdu International Conference.

Ia menegaskan bahwa konferensi internasional ini tidak hanya menjadi forum diseminasi hasil penelitian, tetapi juga menjadi sarana membangun jejaring kolaborasi akademik antarperguruan tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, publikasi ilmiah yang dihasilkan melalui konferensi ini akan memberikan kontribusi penting bagi peningkatan kualitas tridarma perguruan tinggi. Selain memperkuat budaya riset di lingkungan PTMA, publikasi pada jurnal bereputasi internasional maupun prosiding juga menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung proses akreditasi program studi dan institusi, meningkatkan rekognisi akademik dosen, serta memperkuat daya saing perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di tingkat global.

“Semoga konferensi ini menjadi ruang kolaborasi yang terus melahirkan inovasi pendidikan, memperkuat jejaring akademik, serta meningkatkan kualitas publikasi ilmiah sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan Indonesia di tengah pesatnya perkembangan teknologi,” ujarnya.

Gubernur Lampung dan Wamen Dikdasmen RI Apresiasi Kinerja ALPTK PTMA Melalui Rakernas XVII Berbasis OBE ProfunEdu 12th Tahun 2026

Lampung, 25 Juni 2026

Kegiatan Rakernas XVII Asosiasi LPTK PTMA Berbasis Outcome Based Education sekaligus ProfunEdu 12th Tahun 2026 disambut meriah di Rumah Dinas Mahan Agung, Kediaman Gubernur Provinsi Lampung, pada Kamis malam, 25 Juni 2026.

Acara tersebut dihadiri Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal beserta jajaran, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung Prof. Dr. Sudarman, seluruh Rektor Universitas Muhammadiyah se-Provinsi Lampung, serta para Dekan dan Ketua Prodi LPTK PTMA se-Indonesia.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Muhammadiyah Lampung Dr. Marzuki, M.M memaparkan peta kekuatan Muhammadiyah di Provinsi Lampung. Menurutnya, Muhammadiyah Lampung memiliki jaringan pendidikan yang solid mulai dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. UM Lampung dan UM Metro menjadi motor penggerak utama. Dengan ribuan amal usaha pendidikan yang tersebar di 15 kabupaten/kota, Muhammadiyah Lampung berperan besar dalam pemerataan akses pendidikan dan mencetak lulusan berkarakter sesuai nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyambut baik kehadiran para peserta dari seluruh Indonesia. Ia juga memaparkan kondisi pendidikan tinggi di Lampung. Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi di Provinsi Lampung saat ini mencapai 24%, masih di bawah rata-rata nasional 32,89%. Capaian ini jadi pekerjaan rumah bersama. Gubernur menegaskan Pemprov Lampung siap bersinergi dengan Muhammadiyah dan LPTK PTMA untuk meningkatkan akses, mutu, serta relevansi lulusan dengan kebutuhan industri dan dunia kerja di Bumi Lampung.

Ketua Asosiasi LPTK PTMA sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta bersama Rektor BIM University menjelaskan bahwa agenda Rakernas dan ProfunEdu ini merupakan agenda rutin tahunan. Skemanya bergilir: satu tahun diselenggarakan di dalam negeri, tahun berikutnya di luar negeri. Sebelumnya kegiatan ini sukses digelar di Australia, Bali, dan Taiwan. Selain ajang silaturahmi, forum ini menjadi penguatan kelembagaan LPTK PTMA. Peserta merumuskan langkah strategis menghadapi dinamika pendidikan, mulai dari implementasi OBE, penguatan riset pendidikan, hingga peningkatan kompetensi lulusan agar siap bersaing di era global.

Pembicara utama, Wamen Dikdasmen RI Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A, menyoroti kondisi guru saat ini. Ia menegaskan kebijakan pemerintah ke depan tidak akan ada lagi guru honorer di sekolah negeri. Semua guru akan diangkat melalui skema ASN PPPK untuk menjamin kepastian status dan kesejahteraan. Terkait sertifikasi, Wamen juga menyampaikan kebijakan baru: lulusan program studi kependidikan tidak perlu lagi mengikuti PPG. Cukup dengan ijazah S1/D4 kependidikan, mereka langsung berhak mendapatkan sertifikat pendidik. Sementara PPG hanya diperuntukkan bagi guru yang bukan lulusan prodi kependidikan tapi mengajar di bidangnya. Kebijakan ini diharapkan mempercepat pemenuhan kebutuhan guru profesional dan mengurangi beban calon pendidik.

Rakernas XVII dan ProfunEdu 12th ini diharapkan memperkuat peran LPTK PTMA sebagai garda depan pencetak guru unggul yang berintegritas, adaptif, dan berwawasan global untuk Indonesia.

Kontribusi Guru terhadap TKA: Sebuah Penguatan & Adaptasi LPTK PTMA Abad 21

Surakarta, 3 Maret 2026.

Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (LPTK PTMA) menyelenggarakan webinar bertajuk “Kontribusi Guru terhadap TKA: Sebuah Penguatan & Adaptasi LPTK PTMA Abad 21” pada Selasa, 3 Maret 2026 secara daring. Kegiatan ini diikuti oleh para Rektor, Dekan, dan Ketua Program Studi dalam lingkup LPTK PTMA se-Indonesia. Webinar ini menghadirkan narasumber utama yaitu, Prof. Dr. Toni Toharudin yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno (Ketua Asosiasi LPTK PTMA sekaligus rektor UMS) menegaskan bahwa TKA tidak boleh dipandang semata sebagai instrumen evaluasi hasil belajar, melainkan sebagai refleksi sistemik mutu pembelajaran nasional. Beliau menyampaikan bahwa LPTK PTMA memiliki tanggung jawab historis dan ideologis dalam menyiapkan guru profesional yang tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu membaca data, melakukan refleksi pedagogik, serta menghadirkan pembelajaran berbasis penalaran.

“Momentum ini harus kita jadikan sebagai titik reposisi. LPTK PTMA tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang siap mengajar, tetapi harus melahirkan guru yang mampu membuktikan dampak pembelajaran melalui evidence-based practice. Inilah bentuk tajdid pendidikan yang relevan dengan tantangan abad ke-21,” tegas beliau. Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa jaringan sekolah Muhammadiyah merupakan kekuatan ekosistem yang strategis untuk membangun teaching laboratory berbasis data dan praktik reflektif.

Dalam pemaparannya, Prof. Toni Toharudin menjelaskan bahwa TKA bukan sekadar tes, melainkan cermin kualitas sistem pembelajaran.  “Hasil TKA adalah alarm sistem, bukan alat menyalahkan siswa”, tegas prof Toni. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa TKA harus dibaca sebagai indikator untuk memperbaiki praktik pembelajaran, bukan sebagai instrumen yang membebankan tanggung jawab pada peserta didik semata.

Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa TKA mengukur literasi, numerasi, dan penalaran akademik esensial. Data nasional menunjukkan masih terdapat kesenjangan capaian literasi–numerasi dan lemahnya kemampuan penalaran tingkat tinggi di berbagai satuan pendidikan. Menurut Prof. Toni, guru merupakan variabel kunci dalam menentukan kualitas capaian belajar. Pada paparan halaman 11 dijelaskan bahwa guru menentukan kualitas interaksi belajar, membentuk budaya berpikir, serta mengubah data asesmen menjadi keputusan pembelajaran yang tepat.

“Penalaran tidak lahir dari hafalan, tetapi dari kebiasaan berpikir yang dibangun di kelas,” jelas beliau. Karena itu, pembelajaran perlu bergeser dari sekadar menghabiskan materi menjadi membangun pemahaman dan penalaran. Asesmen formatif, diferensiasi pembelajaran, serta remedial adaptif menjadi strategi penting dalam meningkatkan capaian TKA di level kelas.

Webinar ini juga menekankan urgensi reposisi LPTK PTMA. Dalam paparan halaman 17 dan 21, disampaikan perlunya transformasi dari model lama yang berorientasi teori menuju model baru berbasis praktik reflektif dan dampak nyata pembelajaran. Beberapa arah adaptasi kurikulum LPTK PTMA yang disoroti antara lain:

  • Audit kurikulum berbasis kompetensi literasi–numerasi–penalaran

  • Penguatan mata kuliah Diagnostik Pembelajaran Berbasis Data

  • Praktikum Teaching with Evidence (desain–ukur–refleksi)

  • Portofolio lulusan berbasis bukti dampak (learning gains)

Model Teacher Experimental Training (TET) juga diperkenalkan sebagai pendekatan sistematis yang meliputi identifikasi masalah berbasis data, perancangan intervensi, pengukuran dampak, refleksi iteratif, dan skalasi praktik baik. Dalam bagian akhir paparannya, Prof. Toni mendorong LPTK PTMA untuk menjadi Center of Excellence dalam penguatan guru berbasis data dan penalaran. Ekosistem Muhammadiyah dinilai memiliki keunggulan jaringan, budaya keilmuan, serta kapasitas organisasi untuk melakukan standardisasi dan pendampingan secara luas.

Webinar ini menjadi forum strategis untuk menyelaraskan visi antara pemerintah dan LPTK PTMA dalam menghadirkan pendidikan bermutu untuk semua melalui penguatan kualitas guru sebagai aktor utama transformasi pembelajaran.

ProfunEdu-11th 2025: Kolaborasi Monash University dan 11 LPTK PTMA

Melbourne, 25 November 2025

Kegiatan The 11th Progressive and Fun Education (ProfunEdu 11th) International Conferene diselenggarakan pada Selasa, 25 November 2025 bertempat di Clayton Campus, Monash University, yang mempertemukan para pakar pendidikan dari Australia, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Momentum ini semakin bermakna karena bertepatan dengan Hari Guru Nasional, sehingga berbagai sesi diskusi banyak menyoroti dinamika dan masa depan sistem pendidikan Indonesia dan Australia, khususnya dalam konteks pengembangan konsep pendidikan Deep Learning di era kecerdasan buatan.

Kegiatan ini sebagai salah satu bagian dari implementasi kerja sama antara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan Monash University pada beberapa 17 Oktober 2025 yang bertempat di Kantor Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Yogyakarta.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari tiga negara, yaitu Prof. Yuli Rahmawati (Atdikbud KBRI Canberra, Australia), Assoc. Prof. Joanne Blannin (Monash University, Australia), Norazmie Yusof, Ph.D (University of Brunei Darussalam), Muhammad Sayuti, Ph.D (Universitas Ahmad Dahlan), serta Uslan, Ph.D (Universitas Muhammadiyah Kupang). Setiap pemateri menyampaikan pandangan dan riset terbaru terkait pembelajaran bermakna, teknologi digital, dan pengembangan profesional guru lintas negara.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sekaligus Ketua Asosiasi LPTK PTMA serta Koordinator pelaksanaan ProfunEdu 11th, menegaskan bahwa Indonesia perlu menatap masa depan pendidikan yang lebih menyenangkan dan humanis. Ia menyoroti kecenderungan pendidikan nasional yang terlalu berorientasi pada target dan capaian angka, sehingga menekan peserta didik dan mengurangi minat mereka terhadap proses belajar. Prof. Harun menekankan bahwa sistem pendidikan harus memberi ruang bagi siswa untuk menikmati pembelajaran, mengembangkan kreativitas, serta menemukan makna dalam setiap aktivitas belajar.

Dalam bagian lain sambutannya, Prof. Harun menyampaikan harapannya agar sistem pendidikan Australia, yang dikenal progresif dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan berpusat pada siswa, dapat menjadi inspirasi bagi transformasi pendidikan di Indonesia. Ia menegaskan bahwa pendidikan harus dibangun dalam suasana yang inklusif, mindful, meaningful, dan joyful, terutama di tengah perkembangan teknologi artificial intelligence yang semakin pesat. Menurutnya, teknologi adalah alat yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat sisi kemanusiaan proses belajar, bukan menggantikannya.

Sejalan dengan tema besar kegiatan tahun ini yaitu “Deep Learning for Progressive and Fun Education: Building Inclusive, Mindful, Meaningful, and Joyful Learning in the AI Era”, para narasumber memaparkan gagasan penting mengenai inovasi pendidikan. Prof. Yuli Rahmawati, pencetus konsep pendidikan Deep Learning di Indonesia, menyampaikan materi mengenai Deep Learning for Education in the Digital Era, menekankan pentingnya pembelajaran yang menumbuhkan refleksi, kolaborasi, dan kemandirian peserta didik. Assoc. Prof. Joanne Blannin menekankan peluang sinergi Indonesia–Australia dalam mengembangkan model deep learning yang adaptif terhadap kebutuhan regional dan perubahan digital.

Sementara itu, Muhammad Sayuti, Ph.D memaparkan hasil studi perbandingan mengenai program pengembangan profesional guru di Indonesia dan Australia, yang menunjukkan perlunya integrasi antara peningkatan kompetensi pedagogis dan pemanfaatan teknologi digital. Dari Brunei Darussalam, Norazmie Yusof, Ph.D berbagi temuan penelitian tentang persepsi mahasiswa terhadap penggunaan AI dalam pembelajaran sastra Melayu, memberikan gambaran mengenai kesiapan mahasiswa dalam konteks pendidikan digital di Asia Tenggara. Uslan, Ph.D menutup jajaran pemateri dengan membahas pentingnya penguatan karakter dan pembelajaran bermakna sebagai inti dari pendidikan yang humanis dan progresif.

Selain menghadirkan para pembicara internasional, ProfunEdu 11th juga diikuti sebanyak 62 presenter dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Australia. Hal ini menunjukkan besarnya antusiasme akademisi dalam mengembangkan inovasi pendidikan, sekaligus mempertegas posisi ProfunEdu sebagai platform penting untuk pertukaran gagasan dan praktik terbaik di tingkat internasional.

Melalui penyelenggaraan ProfunEdu 11th di Monash University, Asosiasi LPTK PTMA bersama para mitra internasional meneguhkan komitmen untuk memperkuat kualitas pendidikan melalui kolaborasi lintas negara. Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam memperluas perspektif akademik, memperkaya dialog kebijakan, dan mendorong implementasi pendidikan yang progresif serta berorientasi pada kebahagiaan dan kebermaknaan proses belajar di Indonesia.

ALPTK PTMA dan Monash University sepakati Pelaksanaan Join Conference ProfunEdu ke-11 di Clayton Campus pada 25 November 2025 

Yogyakarta, 17 Oktober 2025 — Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (ALPTK PTMA) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jejaring internasional dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Pada kegiatan ProfunEdu ke-11 Tahun 2025, ALPTK PTMA secara resmi menindaklanjuti kerja sama antara Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah dengan Monash University, Australia. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memperluas cakupan akademik dan riset dosen serta mahasiswa di lingkungan PTMA ke tingkat global.

Sebagai bagian dari implementasi kerja sama tersebut, ProfunEdu-11 Tahun 2025 dijadwalkan akan diselenggarakan pada 25 November 2025 di Monash University, Australia. Lokasi kegiatan direncanakan bertempat di Clayton Campus, yang merupakan salah satu kampus utama Monash University dan pusat kegiatan akademik serta riset unggulan.Kesepakatan ini merupakan hasil koordinasi & implementasi kerja sama dengan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dengan tim Monash University yang diselenggarakan di kantor Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah di Jalan Brawijaya, ring road selatan Yogyakarta pada Jumat, 17 Oktober 2025. Penyelenggaraan kegiatan di luar negeri ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam perjalanan internasionalisasi ALPTK PTMA, sekaligus memberikan pengalaman akademik yang berharga bagi seluruh peserta.

Kerja sama ini mencakup berbagai bentuk implementasi program non-degree yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia. Beberapa bentuk kerja sama tersebut meliputi joint international conference, joint publication, dan joint research di bidang pendidikan adaptif, progresif, dan moderatif. Program riset bersama ini akan mengangkat berbagai isu strategis dalam pengembangan pendidikan berbasis Deep Learning, Internet of Things (IoT), serta teknologi digital yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21.

Selain fokus pada program non-degree, kerja sama ini juga membuka peluang pengembangan program degree, khususnya Ph.D. Program. Melalui program ini, dosen-dosen dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah diharapkan dapat melanjutkan studi doktoral di Monash University dengan dukungan akademik yang kuat. Hal ini sejalan dengan misi ALPTK PTMA untuk memperkuat kapasitas akademik dan memperluas wawasan internasional para pendidik bangsa.

Dalam ranah pertukaran akademik, kerja sama ini juga mencakup program exchange students, visiting professors, dan invited speakers dari Monash University. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dan dosen PTMA akan memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari para pakar internasional, berbagi pengalaman riset, serta menjalin jejaring akademik lintas negara. Program ini diharapkan mampu mendorong terciptanya atmosfer akademik yang inklusif dan berdaya saing global.

Ketua ALPTK PTMA menyampaikan bahwa kerja sama dengan Monash University merupakan bukti nyata bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah siap bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman. “Kami ingin memastikan bahwa para dosen dan mahasiswa di lingkungan PTMA memiliki akses terhadap kolaborasi internasional yang bermakna, baik dalam bentuk riset bersama, publikasi, maupun mobilitas akademik,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Monash University menyambut baik langkah kolaboratif ini dan menilai bahwa kerja sama dengan PTMA merupakan peluang besar untuk memperkuat riset pendidikan berbasis nilai-nilai kemanusiaan dan moderasi. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan inovasi dan publikasi yang berkontribusi bagi kemajuan sistem pendidikan di kawasan Asia Tenggara.

Melalui rangkaian kegiatan ProfunEdu-11 di Monash University dan kerja sama yang berkelanjutan ini, ALPTK PTMA menegaskan perannya sebagai jembatan antara pendidikan tinggi nasional dan dunia internasional. Sinergi ini bukan hanya memperluas cakrawala akademik, tetapi juga memperkokoh posisi PTMA sebagai lembaga yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global dalam menghadapi tantangan pendidikan masa depan.

Rektor UMS Pimpin Delegasi 25 Pimpina PTMA teken MoU dengan Dubes RI Malaysia untuk Pprogram KKN KI

Kuala Lumpur, 9 September 2025

Sebagai bentuk komitmen nyata terhadap penguatan akses pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia, sebanyak 102 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia menandatangani perjanjian kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur.

Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tersebut dilaksanakan pada Selasa, 9 September 2025, bertempat di Hotel Nilai Spring Resort, Negeri Sembilan, Malaysia. Acara ini turut disaksikan langsung oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Malaysia, Dato’ Indera Hermono, serta pimpinan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia.

Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, yang hadir sebagai salah satu pihak penandatangan, menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar dokumen formal, melainkan langkah strategis untuk memperluas pengabdian perguruan tinggi Indonesia di ranah internasional. “Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung KBRI dalam menyediakan pendidikan yang layak dan bermutu bagi anak-anak pekerja migran. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional dan pengabdian masyarakat, mahasiswa dapat menghadirkan kontribusi nyata di Sanggar Bimbingan yang menjadi pusat pembelajaran anak-anak Indonesia di Malaysia,” ujarnya.

Dalam perjanjian tersebut, para pihak sepakat bahwa ruang lingkup kerja sama meliputi:

  1. Penyelenggaraan KKN Internasional Mengajar dan pengabdian masyarakat di Sanggar Bimbingan.
  2. ⁠Pengembangan sumber daya manusia untuk peningkatan kualitas tenaga pendidik.
  3. ⁠Penempatan mahasiswa dan dosen pembimbing di berbagai wilayah di Semenanjung Malaysia.

Duta Besar RI untuk Malaysia, Dato’ Indera Hermono, menyambut baik inisiatif ini dan menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi Indonesia dengan KBRI. “Kami percaya, melalui sinergi ini, pendidikan anak-anak pekerja migran dapat ditingkatkan kualitasnya sehingga mereka tidak tertinggal dalam memperoleh hak pendidikan. Program ini sekaligus memperkuat citra positif Indonesia di mata dunia,” ungkapnya.

Kesepakatan kerja sama ini akan berlaku selama empat tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Kehadiran 102 perguruan tinggi sebagai peserta penandatangan menunjukkan tingginya komitmen dunia akademik Indonesia dalam memberikan solusi konkret atas tantangan pendidikan di luar negeri.

Dengan adanya MoU ini, diharapkan tercipta keberlanjutan program pendidikan dan peningkatan kapasitas generasi muda Indonesia di Malaysia, sehingga mampu membangun masa depan yang lebih baik bagi komunitas diaspora Indonesia.

ICEDUALL 8 Hosted by Aklan State University: Harnessing DL for Personalized & Adaptive Education

Kalibo, Philippines, August 20, 2025 – Aklan State University (ASU), Philippines, hosted The 8th International Conference on Education for All (ICEDUALL) with the theme “Harnessing DL for Personalized & Adaptive Education.” The conference was organized by the Association of Muhammadiyah-‘Aisyiyah Teacher Training and Education Faculties (Asosiasi LPTK PTMA) in collaboration with Aklan State University, and supported by Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Indonesia.

The hybrid-format conference brought together approximately 100 participants from 25 Muhammadiyah-‘Aisyiyah universities in Indonesia and one university from the Philippines. The presence of scholars and researchers from various countries reflects a shared commitment to advancing inclusive and equitable education for all.

In his welcoming remarks, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., Chair of the PTMA Association, conveyed his sincere appreciation to all participants and international partners.

“It is truly an honor to welcome you all to the 8th International Conference on Education for All (ICEDUALL). This event is organized by the Association of Education Faculties of Muhammadiyah-Aisyiyah Universities, in collaboration with Aklan State University, Philippines, and with the support of Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Indonesia,” he stated.

He also highlighted the achievements of Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) as the top-ranked private university in Indonesia. With more than 3,000 Scopus-indexed documents, a QS World University Ranking at approximately 1,400, and a student body exceeding 40,000, UMS continues to strengthen its position as a global center for education, research, and innovation.

“This conference serves as a gateway to strengthening academic and research partnerships between Aklan State University and UMS, particularly in research, publications, student and faculty exchanges, and joint academic programs,” he added.

Meanwhile, Prof. Dr. Jeffrey A. Clarin, President of Aklan State University, expressed his optimism about the collaboration between UMS and ASU, emphasizing its potential to enhance the quality of education in both institutions.

“Collaboration between UMS and Aklan State University will improve education quality of both universities. We can collaborate in student exchange, research, and community service,” he affirmed.

ICEDUALL 8 also featured two distinguished international speakers who offered fresh perspectives on education in the era of artificial intelligence (AI).

Dr. Arvin Kim Arnilla of Aklan State University underscored the importance of inclusiveness in education. According to him, educational systems must be capable of adapting to the AI era to ensure that all learners, without exception, have access to relevant and meaningful learning opportunities.

“Inclusiveness in education can adapt with the AI era,” he explained, stressing that technology should not replace teachers but rather expand access, accommodate diverse learner needs, and ensure that no one is left behind in the learning process.

On the other hand, Prof. Dr. Anam Sutopo of Universitas Muhammadiyah Surakarta delivered a presentation on “Harnessing Deep Learning for Personalized and Adaptive Education in the AI Era.” He explained how deep learning technologies can be applied to create more personalized and adaptive learning models. Artificial intelligence, he noted, can identify students’ learning patterns, map their strengths and weaknesses, and provide faster and more accurate feedback. Consequently, AI has the potential to accelerate the realization of truly student-centered education.

Together, the two presentations emphasized that integrating inclusivity with artificial intelligence technologies is essential in shaping future education systems.

In his closing message, Prof. Harun Joko Prayitno expressed his sincere appreciation to the organizing committees, distinguished speakers, and all participants who had dedicated their time, effort, and expertise to ensure the success of the 8th International Conference on Education for All (ICEDUALL). He emphasized that the collective contributions of various stakeholders, both from Indonesia and the Philippines, had created a vibrant academic forum that fostered meaningful dialogue, strengthened international collaboration, and advanced the shared vision of inclusive and adaptive education.

“Please enjoy the conference, and I hope you will experience fruitful discussions, exchange valuable insights, and build sustainable networks that will contribute to the future of education. May this event not only be an academic milestone but also a truly memorable experience for all of us,” he commented.

The 8th ICEDUALL Conference not only served as an academic platform but also as a bridge to strengthen sustainable international collaboration between Indonesia and the Philippines in advancing global education.

Misi Kemanusiaan Menghadirkan Pendidikan untuk Semua yang Berkelanjutan: KKN Kemitraan Internasional Angkatan Ke-13 LPTK PTMA

Kuala Lumpur, 24 Juli 2025

KKN Kemitraan Internasional Angkatan 13 LPTK PTMA periode ini telah diikuti oleh sebanyak 25 mahasiswa dan 22 dosen yang berasal dari 16 PTMA, 1 PTN, dan 1 PTS dengan penempatan lokasi berjumlah 11 SB dan ICC di wilayah semenanjung Kuala Lumpur dan Johor Bahru, yaitu SB Subang Mewah, SB Srimuda, SB Kampung Baru, SB Ampang, SB Pandan Jaya, SB Selayang, SB Pelita Ilmu, SB Sungai Besi Indah, SB Permai Penang, SB At-Tanzil, dan ICC Muar.

Peserta Program KKN KI LPTK PTMA sejak pertama kali dilaksanakan sudah diikuti sebanyak 664 mahasiswa dan 225 dosen yang berasal dari 62 PTMA yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan penempatan lokasi berjumlah 47 SB/ICC/PPWNI di semenanjung Kuala Lumpur, Penang, dan Johor Bahru.

Semangat dan harapan menyelimuti SB Sungai Besi Indah, Selangor. Saat ini, mahasiswa dari Indonesia resmi memulai pengabdian mereka dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kemitraan Internasional Angkatan ke-13. Program ini merupakan bagian dari kolaborasi strategis antara Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) – Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) dan sekolah Indonesia di Malaysia dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak Sekolah Dasar (SD).

Dalam program tersebut, LPTK-PTMA menyelenggarakan program KKN-KI tahun ini dengan melibatkan 25 mahasiswa dan 22 dosen dari 1 PTN, 1 PTS, dan 16 PTMA. Mahasiswa pilihan dari berbagai PTMA, yakni Rinanti Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dari Universitas Muhammadiyah Kupang didampingi oleh Bapak Dosen Universitas Muhammadiyah Kupang yaitu Bp. Julhidayat Muhsam, S.Pd., M.Pd dan dibawah bimbingan Dr. Sri Slamet, M.Hum., M.Pd hadir dengan semangat mengabdi dan belajar lintas budaya.

Kehadiran mereka disambut hangat oleh keluarga besar SB Sungai Besi Indah, yang dengan penuh antusiasme membuka pintu kolaborasi dalam kegiatan belajar-mengajar, pembinaan karakter, serta penguatan identitas kebangsaan bagi anak-anak SD Indonesia di Malaysia. Dalam sambutannya, Bp. Aris dan Bp. Andi selaku Perwakilan Pengelola SB Sungai Besi Indah menyampaikan ucapan selamat datang dan apresiasi atas partisipasi para mahasiswa dalam program KKN Internasional. Beliau juga menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan KKN yang akan berfokus pada pengajaran anak-anak SD Indonesia di Malaysia.

Selain itu, Bp. Aris juga menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan di masa depan, khususnya dalam memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan anak-anak Indonesia di SB Sungai Besi Indah, Selangor. Momen penyambutan di SB Sungai Besi diawali dengan sesi perkenalan dan ramah tamah antara mahasiswa, guru, dan siswa. Antusiasme para siswa terlihat jelas, terutama saat mereka menampilkan Tari Saman.

Tari Saman adalah salah satu warisan budaya tak benda Indonesia yang berasal dari suku Gayo di Aceh, khususnya dari wilayah Gayo Lues. Tarian ini dikenal karena keunikan formasi dan gerakannya yang cepat dan harmonis, dilakukan secara duduk berjajar oleh sekelompok penari. Tari Saman biasanya ditampilkan untuk merayakan peristiwa penting seperti kelahiran, pernikahan, atau peringatan hari besar keagamaan. Lirik lagu yang mengiringi tari ini menggunakan bahasa Gayo dan sering mengandung pesan moral, keagamaan, atau sindiran sosial. Ciri khas utama dari tari Saman adalah keselarasan gerak tangan, tubuh, dan kepala yang dilakukan secara serempak tanpa alat musik, hanya mengandalkan suara tepuk tangan, hentakan dada, dan lantunan syair.

Dalam konteks budaya Islam di Aceh, tari Saman juga merepresentasikan semangat kebersamaan dan pengabdian kepada nilai-nilai religius. Pada tahun 2011, UNESCO menetapkan Tari Saman sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak. Pengakuan ini menegaskan pentingnya pelestarian Tari Saman sebagai identitas budaya Aceh yang kaya akan nilai estetika, etika, dan spiritualitas. Tarian ini pula sebagai bentuk sambutan kepada kakak-kakak yang berkegiatan di SB Sungai Besi Indah.

Program KKN ini akan berlangsung selama lebih dari satu bulan, dengan fokus kegiatan pada penguatan literasi, pengembangan media interaktif, serta pengenalan budaya Indonesia lewat media pembelajaran pop-up book. Dengan dibukanya

ALPTK PTMA dan UHAMKA Selenggarakan Ramadan Deep Learning: Kupas Pembelajaran Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan Bersama Mendikdasmen RI

Jakarta, 25 Maret 2025

Dalam rangka menciptkan pembelajaran yang mendalam dam menyenangkan Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (ALPTK) Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) bersama Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) menggelar Ramadan Deep Learning (Online Focus Group Discussion) dengan tajuk Deep Learning: Mind, Meaning, Joyfully melalui platform Zoom Meeting dan Youtube, Selasa (25/3).

Dalam kesempatan berharga ini, acara Ramadan Deep Learning menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Prof. Abdul Mu’ti selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), serta Prof. Gunawan Suryoputro selaku Rektor Uhamka. Selain itu, kegiatan ini turut dihadiri oleh segenap stakeholder Uhamka serta peserta Focus Group Discussion (FGD) yang berasal dari kalangan tenaga kependidikan, baik di tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Ramadan Deep Learning ini juga mengundang beberapa narasumber dari berbagai ahli, diantaranya Prof. Harun Joko Prayitno Ketua Asosiasi LPTK PTMA, Prof. Suyanto Guru Besar UNY, dan Prof. Marc Gendron dari University de Montreal.

Rektor Uhamka, Prof. Gunawan, yang hadir sebagai Keynote Speaker, menekankan bahwa penerapan aspek mindful, meaningful, dan joyful dalam konsep deep learning dapat menjadi pendekatan yang efektif bagi para pendidik dalam menciptakan pembelajaran yang lebih dinamis. “dengan menghadirkan proses pembelajaran yang aktif, interaktif, dan komunikatif, para pendidik dapat mendorong siswa untuk lebih terlibat secara kognitif, emosional, dan sosial dalam kegiatan belajar” ujarnya. “Hal ini pada akhirnya akan membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di era modern”. lanjutnya

Dalam paparannya Menteri Dikdasmen RI Prof. Abdul Mu’ti menekankan bahwa Deep Learning merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi learning loss yang dialami oleh siswa dalam beberapa tahun terakhir. “Deep Learning akan mengajak sistem pembelajaran saat ini untuk menemukan metode baru, di mana kemampuan berpikir siswa tidak hanya ditentukan oleh nilai dan angka, tetapi juga melalui proses pembelajaran yang menghubungkan fakta yang mereka temukan dengan makna yang mereka dapatkan,” ujar Prof. Abdul Mu’ti

Prof. Abdul Mu’ti menambahkan bahwa pembelajaran pembelajaran dengan mengadopsi Deep Learning itu mampu mengatasi learning loss yang saat ini tengah dialami banyak siswa di Indonesia. Metode ini menuntun sistem pendidikan untuk berinovasi, sehingga kemampuan berpikir siswa tidak lagi sekadar diukur dengan angka dan nilai, tetapi melalui pengalaman belajar yang menghubungkan temuan fakta dengan pemahaman yang bermakna yang didapakan oleh siswa.

Prof. Harun Joko Prayitno dalam pemaparannya menjelaskan gambaran konsep deep learning, yang tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga mendorong inovasi dalam dunia pendidikan. Salah satu upaya konkret yang direncanakan adalah pembentukan Simposium Deep Learning PTMA, yang diharapkan dapat menjadi wadah bagi para akademisi, pendidik, dan praktisi pendidikan untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, serta mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA). “Webinar ini sangat bermanfaat dalam dunia pendidikan, untuk selanjutnya dapat menghadirkan praktisi atau pelaku yg menerapkan deep learning, bisa guru, pengawas, atau kepala sekolah” Tambah Harun Joko Prayitno dalam paparannya. Selain itu, kegiatan ini juga dapat dilakukan berseri agar menumbuhkan minat para akademisi dalam meningkatkan pembelajaran yang berkonsep deep learning. Pemikiran-pemikiran tersebut tidak hanya berhenti pada pembahasan awal, tetapi juga akan terus berkembang dan dianalisis lebih lanjut dalam Jurnal Deep Learning. Jurnal ini akan menjadi media akademik yang mewadahi berbagai gagasan, penelitian, dan temuan terbaru yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Melalui publikasi ini, berbagai perspektif akan dikaji secara mendalam guna memperkaya wawasan serta memberikan kontribusi ilmiah yang signifikan bagi pengembangan teori dan praktik di bidang yang relevan. Selain itu, jurnal ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi yang ingin menggali lebih jauh mengenai isu-isu terkini yang sedang berkembang.

ALPTK PTMA Rintis Kerja Sama dengan Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center

Taipei, 15 Februari 2025

Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (ALPTK PTMA) merintis kerja sama dengan Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center untuk memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan dan dakwah Islam. Kunjungan ini berlangsung pada Sabtu, 15 Februari 2025, di Taipei, Taiwan.

Delegasi ALPTK PTMA yang berjumlah 27 orang terdiri atas perwakilan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Muhammadiyah Kupang, Universitas Muhammadiyah Sampit, dan Universitas Muhammadiyah OKU Timur. Rombongan ini dipimpin oleh Ketua ALPTK PTMA, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., serta didampingi oleh sejumlah akademisi dan tenaga pendidik dari masing-masing perguruan tinggi.

Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas berbagai peluang kerja sama, termasuk pengembangan program pendidikan Islam, pelatihan tenaga pendidik, dan pertukaran mahasiswa dan dosen. Selain itu, kunjungan ini juga bertujuan mempererat hubungan antara komunitas Muslim Indonesia di Taiwan dengan institusi pendidikan Islam di tanah air.

Pada kesempatan tersebut, Ketua ALPTK PTMA, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyampaikan dukungannya kepada Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center, yang telah merintis pendidikan Islam di Taiwan. Ia mengapresiasi upaya pusat pendidikan tersebut dalam memperkenalkan nilai-nilai Islam serta memberikan wadah bagi umat Muslim untuk belajar dan berkembang di lingkungan internasional.

“Kami sangat mendukung inisiatif Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center dalam mengembangkan pendidikan Islam di Taiwan. Upaya ini merupakan langkah penting dalam menjaga eksistensi dan kualitas pendidikan berbasis nilai-nilai Islam di kancah global,” ujar Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum.

Perwakilan dari Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center menyambut baik inisiatif ini dan berharap sinergi dengan ALPTK PTMA dapat memberikan manfaat nyata bagi umat Islam di Taiwan, terutama dalam bidang pendidikan dan dakwah. Pusat pendidikan ini memiliki peran strategis dalam menyediakan pendidikan Islam bagi masyarakat Muslim di Taiwan. Selain memperkuat aspek akademik, kerja sama ini juga membuka peluang bagi pengembangan kegiatan dakwah berbasis pendidikan. Dalam diskusi yang berlangsung, kedua belah pihak sepakat bahwa dakwah harus dikembangkan dengan pendekatan yang adaptif dan kontekstual, sehingga dapat lebih efektif dalam menyampaikan nilai-nilai Islam kepada berbagai lapisan masyarakat.

Salah satu bentuk konkret dari kerja sama ini adalah rencana pengiriman tenaga pengajar dan dari perguruan tinggi Muhammadiyah untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan dakwah di Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center. Melalui program ini, diharapkan masyarakat Muslim di Taiwan dapat memperoleh akses yang lebih luas terhadap pendidikan Islam berkualitas, baik dalam aspek akademik maupun keagamaan. Di samping itu, kerja sama ini juga dapat memperkuat jejaring global perguruan tinggi Muhammadiyah dengan institusi pendidikan Islam di luar negeri. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan semakin banyak mahasiswa dan dosen yang dapat berpartisipasi dalam program pertukaran dan penelitian lintas negara yang berfokus pada pengembangan pendidikan Islam.

Kerja sama ini diharapkan dapat segera direalisasikan dalam bentuk program konkret yang bermanfaat bagi kedua belah pihak serta mendukung perkembangan pendidikan Islam di tingkat internasional. Dengan adanya sinergi ini, ALPTK PTMA dan Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center dapat bersama-sama berkontribusi dalam menciptakan sistem pendidikan Islam yang lebih inklusif dan berdaya saing global.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan, yang turut berperan dalam menjembatani kerja sama antara ALPTK PTMA dan Al-Hadi Taiwan Islamic Education & Culture Center. PCIM Taiwan aktif dalam berbagai kegiatan dakwah, pendidikan, dan sosial di Taiwan, sehingga kolaborasi ini diharapkan semakin memperkuat peran Muhammadiyah dalam pengembangan pendidikan Islam di kancah internasional.

[wzslider autoplay=”true”]

Asosiasi LPTK PTM © 2016 Back to Top